MENJADI RAMAH, MENGENDALIKAN MARAH

Penilaian: 1 / 5

Aktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

WhatsApp Image 2017 08 09 at 08.22.40Oleh: SYAMSURIYANTO
(Dewan Muwajjih Pusat Ma’had Al Jamiah UIN Sunan Ampel Surabaya)

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رجلا قال للنبي صلى الله عليه وسلم : أوصني قال : " لا تغضب " فردد مِرارا , قال : لا تغضب

Dari Abu Hurairah ra, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi SAW, “Berilah wasiat kepadaku”. Nabi menjawab, “Jangan marah”. Laki-laki itu mengulang-ulang permintaannya. Sabda beliau : “Jangan marah”.(HR Bukhari)

Hadis ini sangat penting dipelajari karena menyangkut penyebab kajahatan di tengah masyarakat. Nabi SAW tidak pernah marah kepada orang lain yang menyakti jika berkaitan dengan kepentingan dirinya, bahkan beliau membalas dengan kebaikan. Beliau berkali-kali disakiti oleh para penentang dakwahnya, diludahi oleh nenek tua, dilempari dengan kotoran dan lain-lain. Namun beliau akan sangat marah jika ada syariat Islam yang dilanggar dan dihina oleh orang lain atau ada kehormatan Islam dan ummatnya yang disepelekan. Sayyidina ‘Ali bin Abu Thalib ra. berkata, “Nabi SAW tidak marah karena urusan dunia. Jika beliau marah karena membela kebenaran, tidak ada seorang pun yang mengenalnya. Tidak ada yang menghentikan kemarahannya hingga beliau menanangkannya.” Beliau mengajarkan kita untuk dapat menahan marah jika berkaitan dengan kepentingan diri.

Menurut Psikologi, marah merupakan guncangan jiwa untuk melakukan pembalasan ke luar tubuh. Ada tiga macam jenis ekspresi orang marah, di antaranya:

  1. Seandainya marah kepada orang yang lebih rendah, sehingga ia dapat merespon,  maka muka dan kedua tanganya menjadi merah, karena aliran darah sampai ke kulit.
  2. Seandainya kepada orang yang lebih kuat, sehingga ia tidak bisa melakukan pembalasan, maka wajah dan kedua tanganya menjadi kuning atau pucat, karena darahnya turun dari permukaan kulit sampai ke dalam hati.
  3. Seandainya kepada orang yang setara, maka darahnya bolak balik, naik dan turun, sehingga mukanya kadang merah dan kadang kuning.

Muhammad Nabil Kazhim (2008: 77-107) memberikan kiat-kiat dalam mengendalikan marah. Pertama, menenangkan kemarahan. Kiat pertama ini dapat dilakukan dengan bersikap seperti orang yang menjadi sasaran kemarahan, memberikan sentuhan perasaaan, merendahkan suara serta bersikap lembut kepada orang yang marah. Kedua, mencabut sumber kemarahan. Yaitu dengan memahami karakter diri sendiri, mengetahui sumber-sumber kemarahan serta belajar menahan diri.

Ketiga, mengubah kondisi kemarahan. Di bawah ini adalah solusi untuk mengubah kondisi kemarahan, dari sikap emosional menjadi sikap tenang dan sabar:

  1. Metode Al Qur’an. Jika kita mencari petunjuk tentang kondisi marah, kita akan menemukan jawabannya dalam Surat Al A’raf ayat 200. “Dan jika kamu ditimpa godaan setan maka berlindunglah kepada Allah.
  2. Metode Nabi SAW. Beliau mengendalikan marah dengan cara berlindung kepada Allah SWT dari godaan setan yang terkutuk, mengubah kondisi ketika marah (jika pemarah sedang bediri, hendaklah ia segera duduk serta jika sedang duduk, hendaklah segera berbaring), wudhu dan mandi, diam (tanpa bicara dan bergerak) serta menyibukkan diri dengan perbuatan produktif.
  3. Metode Etika. Yaitu dengan menghafal ayat dan hadits yang menganjurkan sifat sabar, menulis beberapa hal pemancing kemarahan dan hadapi dengan solusi terbaik dan lain-lain. 
  4. Bisikan Hati dan Relaksasi. Jika kita mengubah dengan bisikan yang konstruktif, maka kita akan mampu menyelesaikan problem kehidupan termasuk marah. Di antara contoh bisikan positif seperti dalam ungkapan, “Saya adalah pribadi muslim yang kuat dan mampu mengendalikan marah.”
  5. Perhatian dan kepedulian. Memberikan perhatian kepada orang yang sedang marah dengan memanggil nama asli dengan baik, mendengarkan keluhannya, bersikap lemah lembut serta membuat suasana keakraban dengannya.

Keempat, mengendalikan perasaan marah. Proses ini akan efektif dengan cara mencari penyebab, memahami perilaku, komitmen bersikap lembut, bersikap empati serta mendengarkan dan dialog.  Kelima, menyimpan energi marah. Kita boleh menyimpan energi marah dalam bentuk positif dengan cara saling mengasihi dan mengenal serta memahami orang lain.

 

Referensi.

[1] Imam Ghazali, Upaya Mematahkan Nafsu Syahwat, terj. Labib Mz, Surabaya; Mitra Jaya, 2010, hlm. 25; [2] Moh. Ali Aziz, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, Surabaya; UIN Sunan Ampel Press, 2014, Cet. Ke IX, hlm. 150-151; [3] Muhammad Nabil Kazhim, Kaifa Nataharrar min Nar Al Ghadhab, terj, Taufik Damas, Manajemen Marah, Jakarta; Khalifa, 2008, hlm. 77-107; [4] Mujaddidul Islam Mafa, Man Ana? Siapa saya?, tt; Lumbung Insani, 2010, hlm. 169; [4] Yanuar Arifin, Meniru Sikap Rasulullah SAW Ketika disakiti, Yogyakarta; Sabil, 2011, Cet. Ke IX, hlm. 150-151.

Hak Cipta © 2019 Pusat Ma'had Al-Jami'ah UIN Sunan Ampel Surabaya.