SENYUM: SEDEKAH TANPA RUPIAH

Penilaian: 1 / 5

Aktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

WhatsApp Image 2017 08 28 at 11.45.42Oleh: SYAMSURIYANTO, S.Kom.I

(Dewan Muwajjih Pusat Ma’had al Jamiah UIN Sunan Ampel Surabaya)

« تَبَسُّمُكَ في وَجْهِ أَخِيكَ صَدَقَةٌ »

Rasulullah SAW bersabda, “Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu.“ (HR at Tirmidzi (no. 1956), Ibnu Hibban (no. 474 dan 529) dan lainnya, dari Abu Dzar r.a.).

Menurut hadits di atas, dalam ajaran Islam senyum bernilai ibadah. Seulas senyuman yang disunggingkan kepada seseorang senilai dengan sedekah. Makna sedekah tak hanya uang dan harta, senyum merupakan sedekah yang paling gampang namun juga bisa menjadi sangat sulit diberikan seseorang. Tak perlu modal besar untuk senyum, sedikit ‎saja menarik wajah dan bibir sehingga menciptakan sebuah senyuman yang indah, manis dan menawan.

Senyum menurut hadits di atas adalah senyum ketulusan dan keikhlasan karena mengharap ridla Allah SWT. Senyum yang lahir dari lubuk hati terdalam serta atas dasar kerinduan untuk membahagiakan, menghormati dan memuliakan orang lain. Senyum yang juga bisa menghibur, mencairkan suasana, menghilangkan ketegangan, menenangkan keresahan, meredakan amarah dan memperkuat rasa persaudaraan.

Senyum penuh ikhlas bernilai sedekah, sedangkan senyum secara terpaksa tak bernilai, karena bisa mengandung unsur kebohongan. Senyum yang dibuat buat dan tidak jujur adalah bagian dari sifat munafik. Sebagai seorang mukmin, kita berusaha untuk menahan diri dari senyuman sinis. Karena hanya akan mengiris hati orang lain dan menyebabkan permusuhan. Jangan pula memberi senyuman menggoda, yaitu kepada lawan jenis yang bukan mahram yang dapat menjerumuskan ke lembah maksiat. Selain dapat menimbulkan fitnah, senyum ini bisa menjadi pintu bagi rusaknya hati kita.

Senyum adalah gerak tawa ekspresif yang tidak bersuara untuk menunjukan rasa senang, gembira, dan suka cita dengan mengembangkan bagian bibir sedikit. Ia merupakan ekspresi positif. Menurut Az Zajjaad (:), senyuman ialah ketawanya mayoritas para Nabi. Senada juga menurut Nasy’at al Misri bahwa ketika Rasulullah SAW ketawa, kebanyakan lahir dari bentuk senyuman. Itu sebabnya beliau senang tersenyum kepada orang lain.

Meski senyum kelihatannya sesuatu yang sederhana dan mudah, tapi manfaatnya luar biasa bagi kehidupan kita. Tak hanya kepada orang lain, senyum juga berguna bagi orang yang melakukan. Jika ditinjau dari segi penampilan, senyum dapat membuat orang lebih menarik, lebih menawan, lebih muda, pengantar kesuksesan, lebih disegani dan menunjukkan keceriaan. Jika dilihat dari psikologi, senyum bisa menghilangkan stress, mengubah suasana hati, membantu orang berpikir positif, menjadi lebih rileks dan bersikap optimis.

Menurut kesehatan, senyum mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh, menurunkan tekanan darah, obat awet muda dan lain sebagainya. Rasulullah SAW sendiri membuktikannya. Beliau selalu sehat, karena salah satu kuncinya adalah murah senyum saat bersama keluarga maupun para sahabat. Dari segi sosial, senyum dapat menjaga hubungan baik, wujud keramahan dan kesantunan manusia serta sebagai perantara orang-orang dalam suasana penuh keakraban dan persaudaraan. Senyum yang diberikan membuat orang merasa lebih bahagia dan terbuka untuk berinteraksi dengan kita serta menjadi keajaiban dan kekuatan yang dapat meluluhkan hati orang yang keras dan marah.

Kita selalu senyum karena hati bahagia, sebenarnya yang harus dilakukan ialah senyum agar hati bahagia. Bukan karena suasana itu bahagia, lalu kita senyum. Tapi suasana akan menjadi bahagia, jika kita selalu tersenyum. Maka, senyumlah karena senyum itu:

  1. Ringan tanpa suara, namun kaya makna.
  2. Dilatih dengan kesadaran tinggi, menjadi insan berbudi.
  3. keajaiban yang menawan, terdapat keindahan yang sulit dijelaskan.
  4. Sekilas untuk sesama, tapi tahan lama.
  5. Dilakukan dengan mudah, namun selalu terlihat indah
  6. Sesuatu yang tak berharga, tak semahal pakaian toga.
  7. Bebas dari marah, membuat orang lebih ramah.
  8. Tidak bertenaga, menyehatkan badan seperti olahraga.
  9. Ibadah paling mudah, yang senilai dengan sedekah.

Referensi

(1) Abu Rifqy al Jawie, Tersenyumlah, Maka Kamu Akan Bahagia, Jakarta :Gent Mirqat, 2008, hlm. 3-6. (2) Anisa Ami, The Miracle of Senyum: Terapi Untuk Kebahagiaan dengan Senyum, Bekasi: Laskar Aksara, 2011, hlm. 23. (3) 'Athif Abul'Id, The Magic Smile (Senyum): Kekuatan Sihir yang Mengubah Hidup Anda, :Ziyad Visi Media, 2009, hlm. 9. El Salman Ayashi, Dahsyatnya Senyuman: Ibadah Supermudah Manfaat Superhebat, Jakarta: Qultum Media, 2012, hlm. 33-34. Muhammad Thobroni Umi Farihah, Mukjizat Senyum, Yogyakarta: Gelar Semesta Aksara, 2010, hlm. 90. Nasy`at al Masri, Senyum-Senyum Rasulullah SAW, terj: Abu Abdillah Al Mansur, Jakarta :Gema Insani,1987, hlm. 10. Ummu Ahmad al-Ghozy, Bahagiakan Dirimu, Jakarta :Gent Mirqat, 2007, hlm. 2-4.

Pernah dimuat di kajian hadits Majalah Darul Hikmah Edisi Oktober 2016/ Muharram 1437 H.

Hak Cipta © 2019 Pusat Ma'had Al-Jami'ah UIN Sunan Ampel Surabaya.