TERAPI MANDIRI ANTI KORUPSI

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

sinergitas penegak hukum kunci pemberantasan korupsi si2H2GVkwDSAMSURIYANTO
Dewan Pembimbing pada Pusat Ma’had al-Jami’ah UIN Sunan Ampel Surabaya serta Dosen Studi Islam pada International Undergraduate Program, ITS Surabaya

Motivasi untuk mengubah hidup agar semakin baik, tidak hanya ditentukan oleh orang lain, tetapi juga harus ada upaya diri sendiri. Lisa Legault (2016: 3) dalam Intrinsic and Extrinsic Motivation menyebut bahwa motivasi intrinsik mengindikasikan penampilan suatu aksi karena minat atau kesenangan, sementara motivasi ekstrinsik muncul dari alasan yang dibentuk secara eksternal atau sosial untuk melakukan suatu perilaku. Motivasi dengan kesadaran diri justru lebih ampuh daripada semangat lingkungan sekitar. Upaya pencegahan korupsi hanya akan menjadi utopis, selama hanya dilakukan oleh segelintir orang, tanpa sentuhan semua manusia di suatu wilayah.

 

Berdasar hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (6114) dan Imam Muslim (2609) dari Sayyiduna Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW menegaskan bahwa orang kuat sejati bukan yang senantiasa memenangkan pertarungan, tetapi orang yang dapat mengendalikan diri saat marah. Dalam konsep Islam, musuh paling berat adalah diri sendiri, karena ketika seseorang sudah sukses merayu bahkan memaksa diri agar bebas dari korupsi maka telah memenangkan pertarungan. Manusia dengan jabatan tinggi akan disebut lemah, jika tidak dapat menahan diri dari korupsi. Bahkan, orang dengan wawasan keagamaan luas, dianggap tidak berdaya jika tidak mengamalkan ilmu untuk mencegah diri dari perbuatan terhina ini. Korupsi adalah persoalan dalam mengendalikan diri, tidak memiliki hubungan dengan jabatan atau pengetahuan agama seseorang.

Korupsi, Masalah Psikologi?

Menurut WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), health is a state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of disease or infirmity. Artinya, kesehatan adalah kondisi fisik, mental, dan sosial yang lengkap dan bukan sekadar tidak terdapat penyakit atau kelemahan. Berdasar definisi di atas, koruptor sejatinya memiliki penyakit jiwa atau tidak sehat, karena tidak dapat membedakan antara harta halal dan haram. Sifat tamak yang dimiliki tidak dapat mengontrol jiwa untuk berhenti dari mengambil harta negara dan institusi serta menerima gratifikasi. Tikus berdasi itu berpikir bahwa kekayaan adalah jalan menuju kebahagiaan di dunia, kehidupan yang sementara ini. Depresi kejiwaan yang dirasakan, kemungkinan karena gaya hidup diri dan keluarga yang berlebihan, sementara tidak sejalan dengan pendapatan yang diperoleh.

Pikiran terdesak dan hati terganggu sehingga tidak dapat menjalani kehidupan dengan tenang, akibatnya cara ilegal meraih harta dilaksanakan. Korupsi adalah produk dari cinta dunia berlebihan, sehingga akan melahirkan dua sifat berbahaya bagi eksistensi psikologi manusia yaitu sombong dan iri hati. Sikap tinggi hati menunjukkan kepada manusia atas keberhasilan yang telah dicapai dengan kebanggaan berlebihan hingga merendahkan manusia. Selain itu, iri hati muncul karena perasaan tidak bahagia atas kesenangan yang diperoleh orang lain, sehingga mencari cara menjatuhkan reputasi yang dimiliki. Sifat dengki dalam urusan harta, tidak ingin kalah sehingga akan memacu dirinya untuk memperoleh kekayaan, walaupun dengan cara korupsi.

Intropeksi dan Terapi Mandiri

Penyakit jiwa ini dapat dicegah dengan melakukan terapi mandiri, dengan tiga pertanyaan yaitu, bagaimana cara kita memperoleh harta?, bagaimana cara membelanjakan? serta apakah harta sumber kebahagiaan? Terapi mandiri amat penting agar intropeksi diri dalam menjalani kehidupan. Berdasar hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi (2417) dari Sayyiduna Abu Barzah Al-Aslami RA, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa tidak berpindah kaki seorang hamba ketika hari akhir hingga ditanya empat hal, di antaranya tentang harta yang diperoleh dari mana dan dikeluarkan untuk apa.

Bagaimana cara memperoleh harta? Islam memotivasi penganutnya agar mandiri dalam menjalani kehidupan, terutama berkaitan dengan memperoleh harta untuk kebutuhan sehari-hari. Perilaku mengemis, jelas dilarang oleh agama penuh keindahan ini, karena akan cenderung dan lebih dekat dengan kekafiran. Berapa banyak muslim dengan iman lemah justru pindah agama karena masalah ekonomi yang menghantui kehidupannya? Di sisi lain, Rasulullah SAW pernah menjadi pengusaha. Kejujuran yang dicontohkan dalam berwirausaha oleh teladan agung harus ditiru oleh siapa pun yang merasa telah mengikuti agama yang dibawa. Selain harus jujur, bekerja dalam prinsip Islam juga dilakukan agar semangat beribadah. Para sufi umumnya, hidup dengan kesederhanaan dan cenderung senang kemiskinan. Namun beberapa tokoh besar ulama tasawuf, Imam Abu al-Hasan al-Syadzili justru hidup dengan kemegahan. Tasawuf, sejatinya di hati, bukan tampilan luar. Berapa banyak orang miskin dengan sifat angkuh, dan orang kaya yang rendah hati?

Bagaimana cara membelanjakan harta? Bersikap moderat dalam Islam sangat dianjurkan, termasuk dalam urusan harta. Bersikap boros dilarang, demikian juga dengan kikir. Sikap di antara keduanya adalah dermawan dan hemat. Dermawan membelanjakan harta untuk dakwah Islam dan orang lain, sementara boros menghamburkan kekayaan untuk kepentingan individu. Jika hemat adalah pelit untuk diri sendiri, maka kikir adalah merasa eman untuk berbagi dengan orang lain. Dermawan dengan boros serta hemat dan kikir hampir memiliki kemiripan makna, tetapi berbeda tujuan. Dermawan dan hemat adalah sikap moderat antara boros dan kikir. Harta yang dimakan akan menjadi kotoran, sementara yang disimpan akan jadi warisan. Kekayaan yang dikeluarkan untuk orang lain, akan abadi di kehidupan akhirat kelak. Makanan dan minuman yang dikonsumsi, harus menjadi penyemangat dan energi dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Apa makna makan daging panggang penuh kecap meleleh namun malas salat, dengan mengkonsumsi nasi jagung yang hanya ditemani terasi tetapi semangat beribadah?

Apakah harta sumber kebahagiaan? Berdasar hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (6446) dan Imam Muslim (1051) dari Sayyiduna Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW meluruskan bahwa kaya sebenarnya bukan dengan harta banyak, tetapi kaya hati. Manusia harus sadar agar bebas dari perilaku korupsi, bahwa kebahagiaan bukan terletak pada kekayaan, namun di hati. Kita tidak dapat membayangkan, bahwa tidak sedikit manusia pada siang dan malam hari sibuk mencari harta, hingga sukses mengumpulkan hanya untuk mendapat kebahagiaan. Baginya, harta melimpah adalah sumber kebahagiaan, karena tidak perlu risau untuk makan, membeli rumah dan mobil serta kebutuhan dan keinginan yang lain. Namun secara realita, mereka justru bingung sendiri bagaimana cara menyimpan dan menghabiskannya. Iman yang lemah, justru ketakutan jika harta yang telah diusahakan dengan kuat, suatu saat nanti akan habis. Maka, segala usaha dan semua upaya telah dilakukan, agar kekayaan yang dimiliki seolah abadi.

Kebingungan yang dibentuk sendiri untuk menjaga harta, justru tidak memperoleh tujuan utama, yaitu kebahagiaan. Di sisi lain, manusia yang tidak menyimpan harta yang akan dimakan esok hari, tetapi tetap berdoa, berusaha sekaligus pasrah dan berpikir positif kepada Allah SWT yang Maha Memberi rezeki kepada semua hamba-Nya. Setelah memperoleh rezeki, manusia model seperti ini akan bersyukur kepada-Nya, ini sumber kabahagiaan sejati. Terapi mandiri boleh dilakukan saat melakukan salat, atau mencari waktu sepi untuk menemukan tujuan hidup dan hakikat diri. Terapi mandiri amat penting dilakukan agar manusia mengetahui diri agar bebas dari korupsi. Alternatif pencegahan korupsi ini dapat dilaksanakan karena berkaitan dengan sisi keagamaan manusia.

 

Gambar diambil dari: https://dialeksis.com/

Hak Cipta © 2020 Pusat Ma'had Al-Jami'ah UIN Sunan Ampel Surabaya.