Mbah Maimoen Zubair; Kiai Teduh dan Penyejuk Umat (2)

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang
 

mbah maimunOleh: Dr. Wasid, SS., M.Fil.I (Sekretaris Pusat Ma'had Al-Jami'ah UINSA)

Tulisan kedua tentang Mbah Maimoen melanjutkan tulisan dihari yang ke-7 berkaitan dengan “sowan” penulis yang tidak sengaja di dalem beliau. Dikatakan tidak sengaja sebab penulis mulanya hanya memenuhi undangan Dinas Kebudayaan, Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Rembang Jawa Tengah bertajuk Seminar dalam rangka Revitalisasi dan Reaktualisasi Budaya Lokal pada hari Rabu tanggal 9 Nopember 2016 di Pendopo Museum RA. Kartini Rembang. Tidak tahu mengapa harus mengundang penulis, tapi penulis meyakini bahwa Ustadz Amirul Ulum, santri Sarang dan penulis buku yang mengusulkan nama sebagai pembanding diskusi Bukunya yang berjudul “Kartini Nyantri” kepada panitia pelaksana.  

Tidak disangka-sangka, di forum ini pula penulis duduk semeja dengan Dr. KH. Abdul Ghofur (salah satu putra Mbah Maimoen Zubair), dan Ustadz Amirul Ulum sebagai penulis. Diskusi berjalan sesuai dengan rencana, khususnya membahas tentang peran dan potensi wisata religi kaitan dengan makam RA. Kartini. Semua menyepakati pengembangan makam tokoh sebagai wisata religi, bukan saja menjadi pemantik agar para ziarah datang untuk berdo’a. Tapi juga menjadi sarana untuk menggerakkan ekonomi umat sebagaimana terjadi di beberapa makam ulama dan penyebar Islam awal, seperti makam Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Muria, dan lain-lain, yang menggeliatkan ekonomi umat.

Selebihnya, penulis lebih banyak mendengar petuah-petuah menyegarkan dari Gus Ghofur Maimoen kaitannya bagaimana sosok Kartini dilihat dari kacamata sebagai santri(wati) dengan melihat fakta sejarah bahwa beliau pernah bersinggungan dengan KH. Saleh Darat Semarang. Salah satu pembacaan Gus Ghofur, penyematan RA. Kartini sebagai santri tidak dimaknai seperti halnya santri yang pernah mondok bertahun-tahun, tapi dimaknai bahwa RA. Kartini adalah putri Muslimah yang cerdas dan pernah mengaji atau belajar kepada Kiai Saleh Darat.

Setelah forum selesai, Ustad Amirul mengawali perbincangan, setelah ini kemana pak? Masak langsung kembali ke Suroboyo dengan logat jawa yang sangat kental. Penulis, hanya bisa menjawab, monggo terserah sampean?, yang pasti aku mau ke makam ulama Lasem yang berada di Masjid Jami’ Lasem, eman kalau tidak mampir. Ustad Amirul, langsung menjawab okey pak, ikut saya aja sepedaan, biasa perjuangan hhhhh. Nanti, saya antar pisan untuk sowan ke Mbah Maimoen, insyaallah hari ini beliau ada di dalem.

Tanpa berpikir panjang, penulis mengikuti tawaran Ustad Amirul sekalian dalam rangka berharap keberkahan para masyayikh pesantren sebagai wasilah kepada Allah SWT agar dekat ulama dan keturunan menjadi anak yang sholih-sholihah, terkhusus anak ketiga bisa sembuh yang sejak bayi divonis mengidap penyakit dalam. Berwasilah bukan meminta, tapi menjadi perantara sebab para ulama Lasem dan Sarang adalah orang-orang sholih yang bukan saja ilmunya mendalam, tapi juga ibadahnya luar biasa. Berwasilah dengan beliau-beliau yang dekat dengan Allah adalah jalan mudah agar semua hajat dikabulkan olehNya, itulah pemahaman penulis yang diajari leluhur dan para guru-guru di pesantren.

Penulis akhirnya, digonceng Ustad Amirul dengan menaiki sepada Honda Bird Merah Hitam melintasi Kota Rembang, lintasan kota lama Lasem yang penuh sejarah, pinggiran pantai Lasem dan mampir di Masjid Jami’ Lasem; sambil sholat dan ke maqbaroh ulama Lasem. Di sini, penulis dikenalkan dengan Ustad Abdullah Hamid, salah satu pengurus masjid yang santri asal usul Madura, sekaligus pemerhati sejarah Lasem. Sekilas penulis darinya kenal tentang dinamika Masjid Jamik Lasem, hingga makam-makam masyayikh Lasem.

Termasuk di area makam Masjid Jami’, penulis diperkenalkan --oleh Ustad Abdullah Hamid-- dengan makam Mbah Srimpet, yang konon nama aslinya Adipati Tejakusuma 1. Mbah Srimpet adalah sosok bijak dan cerdas serta tercatat sebagai menantu Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya atau dikenal dengan Joko Tingkir. Setelah itu, penulis geser melanjutkan perjalanan dengan membawa air kijing makam Mbah srimpet, yang diyakini banyak khasiat sesuai niat orangnya. Pastinya, semua dengan ijin dan kuasa Allah Swt.    

“Sowan” dan Air Suwuk

Setelah perjalanan cukup lama di atas sepeda motor, akhirnya penulis bersama Ustad Amirul Ulum masuk daerah Sarang Rembang. Dalam benak selalu berdoa, semoga ditakdirkan sowan untuk bertemu kembali dengan Mbah Maimoen Zubair, sekalipun dengan maksud yang berbeda, yaitu meminta air suwuk dari Mbah Maimoen Zubair. Sambil menunggu waktu untuk ke dalem, penulis diajak mampir ke salah satu kamar para ustad Sarang dalam rangka Istirahat sejenak dan sholat, sambil leye-leye menahan sakit sebab sepeda sempat tergelincir depan jalan raya Sarang.

Setelah selesai, Ustad Amirul mengajak ke dalem Mbah Maimoen kira-kira 50 meter dari kamar ustad Sarang. Setelah selesai, penulis menyaksikan betul bahwa dalem sangat ramai tamu, yang sama-sama menginginkan petuah-petuah dari beliau. Hanya saja, penulis diuntungkan sebab Ustad Amirul sangat dekat dengan Mbah Maimoen. Ketika mengucapkan salam, Mbah Maimoen langsung menjawab dan tahu betul yang datang adalah Santrinya, UStad Amirul. Dari sini, penulis leluasa dengan cepat untuk mengaturkan maksud.

Penulis tidak mau berpikir panjang, setelah berada di depan Mbah Maimoen langsung mendekat dengan menyerahkan air Aqua besar 1500 ml, sambil membisik dengan lirih: Mbah Kiai, kulo minta doanya untuk kesehatan anak kulo?, mniko kulo bekto air minum?. Tanpa diduka, Mbah Maimoen mengajukan pertanyaan pula, wes digowo ten dokter geh lan sakit nopo ?. Penulispun menjawab, usaha dhahir sampun kulo lakoni dan penyakit dalam bawaan sejak bayi. Tinggal berkah doa panjenengan melalui wasilah air. Lek nguno yo wes, tegas beliau. Lantas Mbah Maimoen membaca doa-doa dengan lirih dan khususk beberapa menit sambil meniupkan air yang sudah dibuka sebelumnya oleh penulis.

Penulis merasa betul-betul lega bisa ditakdirkan untuk kedua kalinya sowan, hanya untuk meminta Air suwuk penuh keberkahan. Bagi penulis Mbah Maimoen adalah kiai palipurna, mengingat –mengutip tipologi para peneliti— dalam pribadi Mbah Maimoen terpotret sebagai sosok Kiai gentong, Kiai Ceret atau Kiai Talang. Dikatakan Kiai Gentong, sebab kealiman Mbah Maimoen telah menyedot santri-santri dari berbagai daerah di Indonesia untuk mengaji di pondok al-Anwar Sarang. Bahkan layaknya Gentong, air keilmuan Mbah Maimoen tidak pernah habis diambil dengan kadar santrinya yang bermacam-macam ketiak mengaji, tapi malah terus memancarkan keberkahan hingga banyak terlahir dari beliau kiai-kiai kenamaan yang dikenal alim di daerahnya masing-masing, termasuk di ruang yang lebih luas duni medsos.

Mbah Maimoen juga dikenal sebagai Kiai Ceret sebab beliau juga mendatangi undangan ceramah, baik orang biasa maupun pemerintah. Baik perkotaan, maupun pedesaan yang jalannya harus dilalui dengan estra karena becek atau jalannya berbentuk macadam. Sungguh petuah-petuah beliau selalu dirindukan jama’ah sebab membuat sejuk peminatnya, dan tidak sedikit memberikan pencerahan hal-hal baru soal beragama, bermasyarakat dan berbangsa sebagaimana kita lihat beberapa petuah beliau di youtube atau media sosial.

Sementara, juga disebut sebagai Kiai Talang, mengingat Mbah Maimoen selalu memberikan air keilmuan dan kesejukan kepada siapapun, tanpa pandang bulu lawan atau kawan. Baginya, menurut tafsiran penulis, dakwah ilmu harus disampaikan kepada siapapun, dengan tetap berpegang pada kebenaran pemahaman, dan kesantunan berproses. Laksana, talang yang mengairi air sehingga dinikmati semua orang, termasuk hewan dan tanaman.

Setelah memperoleh air Suwuk, penulis langsung minta pamit sambil memegang erat tangan dingin beliau yang penuh berkah sebab selalu digunakan untuk berzikir dan memulak malik lembaran al-Quran atau kitab-kitab kuning. Penulis, merasakan dengan air Suwuk ini, keberkahan Allah terus mengalir; setidaknya menambah keyakinan bahwa penyakit apapun bisa disembuhkan, asal tetap berproses secara alamiah, sekaligus pasrah penuh kepada Allah . Dengan begitu, air Suwuk ini akhirnya, tidak saja diminumkan untuk anak putra, tapi juga kepada 2 kakaknya, yang sama-sama putri. Harapannya, semoga doa-doa berkah mbah Maimoen yang ditiupkan ke air terus mengairi keberkahan hingga menjadi anak Sholih dan sholihah.

Itulah catatan, 2 petemuan sowan ke mbah Maimoen. Begitu mulianya beliau dengan kedalaman ilmu, amal, dan konsistensi menjaga kesejukan umat. Kita berharap semoga doa-doa dan kebaikan mbah Maimoen terus menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus menebarkan keteduhan, sekaligus menjaga kondisi agar terus sejuk. Capaian mulia diakhir hayat Mbah Maimoen tidak lepas dari komitmennya atas perwujudan nilai-nilai tersebut sehingga pihak kerajaan Arab Saudi sangat membuka sebar-sebar agar beliau dimakamkan di Ma’la, termasuk barokah lantunan Qaidah spesial Mbah Maimoen kaitan berharap kebahagiaan di dunia dan di akhirat sehingga berkah Allah SWT makamnya dekat dengan Sayyidah Khodijah di Ma’la. Salah satu liriknya sebagaimana berikut:

سَعْدُنَا بِالدُّنْيَا فَوْزُنَا بِالْأُخْرَى*بِخَدِيْجَةَ الْكُبْرَى وَفَاطِمَةَ الزَّهْرَا

"Kita berharap kebahagiaan di dunia dan keberuntungan di akhirat"

"Dengan -perantara- Sayyidah Khodijah al-Kubro dan Sayidah Fatimah al-Zahro"

Akhirnya, semoga Mbah Maimoen padang kuburnya di tempat yang mulia Ma’la bertemu dengan orang-orang yang mulia. Kita generasi setelahnya niscaya wajib menjaga dan merawat spirit warisan perjuangan beliau sebagai bentuk rasa cinta dan kekaguman kita kepada beliau, sebagai pewaris Nabi dan Kiai penjaga tradisi, penguat kesadaran serta pemompa kecintaan pada bangsa, dan penyejuk umat sepanjang masa. Lahul fatihah. (*)

Hak Cipta © 2019 Pusat Ma'had Al-Jami'ah UIN Sunan Ampel Surabaya.