Mbah Maimoen Zubair; Kiai Teduh dan Menyejukkan (1)

Penilaian: 1 / 5

Aktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

mbah maimunOleh: Dr. Wasid, SS., M.Fil.I (Sekretaris Pusat Ma'had Al-Jami'ah UINSA)

Ketika informasi menyebar dengan cepat ke penjuru jagat kaitan meninggalnya al-Allamah KH. Maimoen Zubair, selanjutnya disebut Mbah Maimoen, di Makkah al-Mukarromah pada hari Selasa tanggal 5 Dzulhijjah 1440 H atau 6 Agustus 2019 dengan umur 90 tahun, yang lahir pada 28 Oktober 1928. Beliau akhirnya dimakamkan di Ma’la Arab Saudi; sebuah area pemakaman mulia dan penting sebab menyambungkan beliau dengan ulama Nusantara, seperti Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Mahfudh Termas, Syaikh Yasin al-Padani, dan lain-lain, termasuk berdekatan dengan makam Sayyidah Khodijah al-Kubro ‘alaha al-salam.  

Banyak pihak merasa kehilangan akan sosok kiai sepuh yang meneladankan keteduhan beragama dan berbangsa. Bukan hanya Muslim, tapi Non Muslim merasa kehilangan sangat sebab keteduhan Mbah Maimoen nampaknya juga dirasakan semua orang. Banyak sekali komentar dan tulisan dengan berbagai cara pandang melihat sosok dan keteladanan Mbah Maimoen; dari sebagai Sosok penjaga tradisi, mengutip Prof. Masdar Hilmy (rektor UINSA) dalam tulisannya di Kompas beberapa hari lalu (8/9), hingga komentar KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus) di media Jawa Pos (12/9) yang menyebut Mbah Maimoen sebagai “Kiai Bangsa yang Mencintai dan Dicintai”.

Untuk itu, di hari ke-7 meninggalnya mbah Maimoen, penulis memaksakan diri, meskipun mungkin dianggap terlambat dan sebenarnya cukup berat mengomentari tentang beliau dengan keteladan yang cukup sempurna di tengah kehidupan berbangsa miskin keteladan; baik dalam beragama maupun berbangsa. Maunya, menulis dengan cepat setelah ada kabar beliau wafat, tapi sulit raga bergerak menyatukan gagasan dan kemauan duduk menulis, mengingat betapa mulianya beliau hingga dimakamkan di Ma’la bersama para ulama dan para tokoh sufi kenamaan.

Bagi penulis, sekalipun tidak pernah mulazamah di Pondok Pesantren Sarang Rembang, mbah Mbah Maimoen merupakan sosok ulama sepuh yang allamah, teduh dan menyejukkan, bahkan mudah membuka dialog dengan siapapun kaitan persoalan apapun yang diajukan, termasuk yang muncul dari kalangan muda. Betapapun penulis pernah dua kali ditakdirkan datang (baca: sowan) di dalem Sarang, di tengah-tengah antri bersama para kiai, santri, tokoh politik dan lain yang juga berharap petuah teduh beliau hingga bisa lepas dan bersikap bijak dalam menyikapi segala problematika kehidupan serta bisa selamat dunia-akhirat.

 

“Memaknai “Sowan”

Sowan kali pertama, penulis mewakili tim penulisan buku “Biografi Kiai Abdul Mujib Abbas; Sang Pencinta Ilmu yang Konsisten”  bersama Ustad Syuaib Nur Ali, Ustad Hatmun, dan Ustad Akhmad dari Lembaga Pesantren al-Khoziny Buduran Sidoarjo pada tanggal 11 Mei 2012. Sowan kali ini dalam rangka meminta pandangan beliau, sekaligus pengantar atas buku yang dimaksud, mengingat Kiai Mujib adalah alumni Sarang, santri Kiai Zubair Dahlan (ayahanda Mbah Maimoen), dan berteman sekamar dengan KH. Sahal Mahfudh (Allah Yarham) serta KH. Minan Ustman Surabaya. Dari Surabaya rombongan berangkat tengah malam, yang harapan bisa sowan dengan mudah, setelah Mbah Maimoen mengajar di depan para santrinya setiap pagi hari.

Al-Hasil, penulis dan rombongan sampai di Sarang, sambil menunggu Mbah Maimoen membaca kitab kuning; salah satu kitab yang dibaca adalah Kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam al-Ghazali. Setelah selesai, kami dipersilahkan masuk bersama  dengan tamu-tamu lain dari berbagai daerah. Tanpa komentar panjang, semua dipersilahkan sarapan dulu, sebelum mengutarakan maksud dengan bergiliran. Tepat pada gilirannya, penulis mengajukan maksud dan permohonan agar beliau berkenan memberikan pengantar rencana penerbitan buku Kiai Mujib Abbas Sidoarjo (allah Yarham).

Pertemuan tidak cukup lama, tapi petuah-petuah Mbah Maimoen sangat segar dan progresif. Apalagi, ketika mengomentari Kiai Mujib. Bagi Beliau, Kiai Mujib yang alumni MUS adalah salah satu kiai yang terbuka sehingga menerima modernisasi di pesantren, termasuk dengan adanya kampus. Soal modernisasi Pesantren, Mbah Maimoen mengutip kaedah yang cukup populer di kalangan pesantren dan NU: al-Muhafadhah ‘ala al-Qodim al-Shalih wa al-akhdu bi al-Jadid al-Ashlah (menjaga tradisi lama yang baik, sekaligus mengambil yang baru lebih baik).

Kutipan kaedah di atas, dimaknai oleh Mbah Maimoen bahwa pesantren sudah saatnya menerima keterbukaan dalam pendidikan, termasuk menerima nilai-nilai modern. Tapi, yang harus diperhatikan, jangan sampai atas nama modern dengan memasukkan pendidikan umum, lantas orang-orang pesantren melupakan tradisinya sebagai pengkaji kitab kuning dan tatakrama. Intinya, menurut tafsiran penulis, kita semua insan pesantren dan Muslim pada umumnya jangan mudah latah menerima perubahan hanya takut tidak dikatakan sebagai orang modern. Jangan pernah korbankan jati diri, untuk tergesa-gesa merespon hal baru yang tidak pasti kemanfaatannya jangka panjang.

Mulanya hanya minta pengantar, tapi berujung pada perbincangan beliau secara mendalam tentang pentingnya modernisasi pesantren dengan Kiai Mujib sebagai pemantik dialog. Sungguh, keterbukaan berdiskusi dengan Mbah Maimoen mengagetkan penulis sebab memberikan waktu agak lama, meskipun kami adalah santri-santri Muda. Itulah kepribadian beliau, tetap menerima tamu dan mau berdialog memberikan pencerahan teduh dalam menyikapi kehidupan; terkhusus kaitan masa depan pesantren, sekalipun yang dihadapi santri muda.

Lagi-lagi pikiran dan sikap mbah Maimoen mengambarkan kedalaman ilmu beliau (allamah), yang diusia sangat sepuh tetap menyikapi kondisi kekinian umat; baik urusan beragama maupun berbangsa, termasuk tetap “ngemong’ membaca kitab Kuning di depan santri-santri Sarang. Pencerahan teduh dialogis di atas mengambarkan keterbukaan beliau dalam menerima nilai-nilai modern, sembari mengingatkan kita untu menjaga jati diri agar tidak hilang karakter sebagai Muslim Indonesia.

Sowan kali pertama ditutup dengan pesan beliau yang sangat mendalam agar “santri harus tetap memegang jati diri”. Setelah itu, kami pamitan dan mencium tangan beliau dengan penuh penghormatan dan berharap berkah keteduhannya meluber setiap saat. Penulis merasa pertemuan ini sangat singkat, tapi penuh makna dan pelajaran bagi hidup. Kamipun kembali ke Surabaya sekitar pukul 08.30 dengan membawa pesan yang cukup berat soal pentingnya menjaga jati diri. Dalam batin terucap matur nuwun waktu dan ilmunya mbah Yai. 7 tahun setelah sowan kali pertama, beliau pergi selamanya menghadap Tuhannya, Allah SWt. Lahul Fatihah. (bersambung-)

Hak Cipta © 2019 Pusat Ma'had Al-Jami'ah UIN Sunan Ampel Surabaya.