CINTA "Harus" BERKORBAN

Penilaian: 1 / 5

Aktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

adha19Oleh: Dr. Wasid SS., M.Fil.I (Sekretaris Pusat Ma'had Al-Jami'ah UINSA)

Tanggal 10 Dzulhijjah, jutaan bahkan milyaran Muslim sedunia serentak merayakan hari raya Idul Adha atau sebagian menyebut Idul Kurban, termasuk di negeri kita tercinta, Indonesia. Ritual tahunan yang tidak hanya dianjurkan sholat Id, tapi ada perintah untuk menyembelih hewan kurban bagi mereka yang mampu.

Dalam konteks sejarah peradaban manusia, ritual Idul Adha memiliki kaitan yang sangat mendalam dengan peristiwa dan teladan Nabiyullah Ibrahim As. dan Nabiyullah Ismail As; peristiwa kemanusiaan yang mengajarkan tentang keutuhan cinta dalam bingkai pengesaan tulus kepada Allah Swt (baca: tauhid).

Keteladanan kedua Nabi di atas, berikut keluarganya juga diabadikan dalam beberapa ritual haji, yang ceritanya juga diabadikan dalam al-Qur'an. Karenanya, momentum  Idul Adha mengajak kita agar bisa belajar tentang ketulusan cinta, tanpa pamrih. Tanpa cinta yang tulus tidak mungkin Nabi Ibrahim menerima perintah Allah Swt. untuk menyembelih anaknya. Dan tanpa cinta yang tulus pula, pasti Nabi Ismail menolak perintah Allah melalui ayahya sendiri.

Totalitas cinta mampu mematikan egoisme keduanya agar semata-semata berharap ridhoNya. Ketika itu terjadi, maka cinta yang tulus melahirkan cinta pada jagat semesta, terlebih kepada manusia sesama sebagaimana Allah mengganti domba. Karenanya, ada dua hikmah, mengutip Syaikh Ali  Almad al-Jurjawi dalam Bukunya Hikmat al-Tasyri' wa Falsafatuhu, dianjurkannya menyembelih kurban.

Pertama, menampakkan kesempurnaan taat kepada sang Khaliq (idhharu tamami al-ta'ah li al-Khaliq). Mengorbankan anaknya atas perintah Allah adalah puncak dari pembuktian cinta kepadaNya sebagaimana dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan didukung pula oleh Nabi Ismail.

Tidak ada cinta, tanpa pengorbanan. Orang yang mencintai Allah dan RasulNya, tapi belum ada pembuktian ketaatan, maka bisa dipastikan cinta itu adalah cinta palsu sebab cinta merupakan kesesuaian dengan yang dicinta. Hal ini sesuai dengan perkataan Imam al-Ghazali dalam kitabnya Mukasyafat al-Qulub, 47 sebagai berikut:
وعلامة المحبة موافقة المحبوب واجتناب خلافه
"Tanda-tanda cinta adalah adanya kesesuaian dengan yang dicintai. Dan menjauh untuk berbeda dengannya."

Kedua, pernyataan bersyukur kepada Allah atas kenikmatan tebusan sehingga bisa berbagi kepada sesama (al-Qiyam bi al-Syukr 'ala Nikmati al-fida'). Bisa dibayangkan, jika Nabi Ismail benar-benar tersembelih, tanpa tebusan domba, bagaimana nasib peradaban manusia setelahnya ?. Allah mengajarkan bahwa kambing adalah simbol kepedulihan, sekaligus agar kita redam unsur hewani sehingga tidak liar memandu hidup kita.

Syukur kepada Allah meniscayakan agar kita mengingat sesama, bukan malah menghamba pada ego. Kambing, unta atau sapi adalah simbol ketaatan, sekaligus kepedulian pada sesama. Bukankah iman kepada Allah dalam al-Quran hampir dipastikan selalu disertai dengan amal shaleh, yang salah satunya peduli kepada sesama.

Konteks Berbangsa

Dalam konteks kehidupan berbangsa, rasa cinta -sebagaimana manjadi spirit berkurban- layak ditanamkan secara mendalam dengan tulus dalam benak sanubari kita, apalagi momentum bulan Agustus adalah bulan dimana kemerdekaan bangsa Indonesia diperoleh; tepatnya tanggal 17 Agustus1945.

Cinta kepada bangsa atau Hubbu al-Wathan menjadi lampu penerang agar semua aktivitas bermuara menuju kondisi bangsa yang lebih baik. Para pendiri bangsa, bisa disebutkan mulai dari Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Din hingga Soekarno, Hatta serta KH. Hasyim Asy'ari dan lain-lain telah meneladankan kecintaan luhur kepada bangsa dengan cita-cita luhur memimpikan bangsa merdeka, mandiri, dan penuh kedamaian. Pasalnya, sengsara dibawah ketiak penjajah adalah bentuk penistaan dan tidak manusiawi sehingga harus dilawan, atas nama hubbul wathan.

Beliau-beliau  telah berkorban harta hingga nyawa sebagai bukti cinta kepada bangsanya. Baginya, mencintai bangsa adalah pembuktian dengan terlibat aktif berjihad untuk melawan siapapun penjajah yang merusak nilai kemanusiaan atas nama penjajahan. Pertanyaannya kemanusiaan, sudahkah kita semua benar-benar mencintai bangsa ini ?, atau cintanya masih setengah hati ?.

Sungguh betapa sulitnya menjawab pertanyaan itu kaitannya kontribusi kita untuk membalas atas jasa yang telah ditolehkan para pendiri bangsa hingga mengantarkan bangsa ini merdeka. Tapi, tugas penting dan pokok yang tidak boleh dilupakan adalah senantiasa merawat warisan ideologis para pendiri bangsa (the founding fathers); setidaknya warisan itu adalah  Pancasila dan UUD 1945. Jika tidak ada komitmen menjaga  warisan ini, maka sejatinya kecintaan kita kepada bangsa hanya bersifat semu sebab tidak ada pembuktian secara riil mengawal identitas bangsa.

indoKita lahir, hidup menghirup udara dan insyaallah kelak akan meninggal di bumi Indonesia. Bagaimana bisa kita "berak" atau mengotorinya dengan tindakan atau  bangga menebarkan narasi ideologis yang bertentangan dengan warisan para pendiri bangsa. Karenanya, cinta harus ada kesesuian dengan yang dicintai. Tidak boleh bertepuk sebelah tangan, memikirkan kepuasan individu dan kelompok dengan mengabaikan kemaslahatan yang lebih luas bagi bangsa.

Jadi, semangat cinta luhur yang diteladankan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail layak diteruskan dalam konteks kebangsaan agar kita menjadi individu yang selalu peka secara sosial sebagaimana simbol kesalehan sosial dari makna penyembelihan kurban.

Akhirnya, mari kita belajar cinta kepada bangsa dengan tulus. Tanpa menuntut banyak harapan, kecuali sejauhmana kebaikan dan kemaslatan itu dilakukan bagi bangsa, demi generasi berikutnya. Dan Momentum berkurban adalah upaya menekan agar ego tidak menguat sebab jika dibiarkan bukan hanya pelakunya yang bermasalah, tapi bangsa ini akan tercabik-cabik. Selamat Idul Adha dan Merdeka.(*)

 

Hak Cipta © 2019 Pusat Ma'had Al-Jami'ah UIN Sunan Ampel Surabaya.