Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang

AfifiOleh: Muhammad Afif Yuniarto, S.HI., M.Ag. (Dewan Muwajjih Pusat Ma’had al Jamiah UIN Sunan Ampel Surabaya)

Konon kalender Masehi yang kita kenal saat ini diadopsi dari sistem kalender Romawi yang pertama kali digagas oleh Humo Pompilius, Raja Romawi II, sekitar abad ke-7 SM. Hanya saja saat itu sistem kalender masih menggunakan sistem Lunar (Bulan sebagai patokan). Berbeda dengan kalender Masehi sekarang yang menggunakan sistem Solar (Matahari sebagai patokan). Akan tetapi jika dirunut lebih jauh lagi ke belakang, sistem kalender Masehi sebagaimana yang kita kenal sekarang sejatinya telah digunakan oleh orang-orang Mesir Qibti (Koptik) sejak 4236 tahun SM. Ketika itu orang-orang Qibti sudah menggunakan kalender dengan sistem Solar. Mereka membagi bulan menjadi dua belas bulan dengan jumlah 30 hari setiap bulannya. Khusus bulan kedua belas, mereka menambahkan lima hari untuk hari raya mereka yang mereka namai “ hari nasi’ ”. Sehingga pada bulan kedua belas, jumlah hari sebanyak tiga puluh lima.

Tatanan seperti ini kemudian diubah oleh Batholemus pada tahun 238 SM. Batholemus menetapkan adanya sistem Kabisat tiap empat tahun sekali. Dengan demikian bulan kedua belas akan berjumlah 36 hari setiap empat tahun sekali.

Kembali pada kalender orang-orang Romawi. Pada mulanya, orang Romawi menggunakan Bulan (Qomar/Moon) sebagai patokan tahun. Kemudian mereka membuat kalender dengan sistem Lunisolar (sistem kalender yang memadukan peredaran Bulan sebagai siklus bulan dan peredaran Matahari sebagai siklus tahun). Pada saat inilah orang-orang Romawi mulai mengenal sistem dua belas bulan dalam satu tahun sekaligus memberikan nama untuk tiap-tiap bulan. Secara berurutan, nama dua belas bulan yang dikenal pada saat itu adalah Martius, Aprilis, Maius, Junius, Quintilis, Sextilis, September, October, November, Desember, Januarius, dan Februarius. Dari kedua belas bulan tersebut, Orang-orang Romawi menetapkan tujuh bulan di antaranya berjumlah 29 hari per-bulannya, tiga bulan berjumlah 31 hari, dan satu bulan berjumlah 28 hari. Sebagai konsekuensi atas penggunaan kalender sistem lunisolar ini, maka tiap satu tahunnya hanya terdiri dari 355 hari. Sementara siklus peredaran Matahari dalam satu tahun sebanyak 365 hari. Maka dari itu, untuk mensingkronkan antara peredaran Bulan dan Matahari ini, ditetapkanlah bulan ketiga belas yang bernama Marcedonius setiap tiga tahun sekali.

Penilaian: 1 / 5

Aktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

WhatsApp Image 2017 08 09 at 08.22.40Oleh: SYAMSURIYANTO
(Dewan Muwajjih Pusat Ma’had Al Jamiah UIN Sunan Ampel Surabaya)

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رجلا قال للنبي صلى الله عليه وسلم : أوصني قال : " لا تغضب " فردد مِرارا , قال : لا تغضب

Dari Abu Hurairah ra, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi SAW, “Berilah wasiat kepadaku”. Nabi menjawab, “Jangan marah”. Laki-laki itu mengulang-ulang permintaannya. Sabda beliau : “Jangan marah”.(HR Bukhari)

Hadis ini sangat penting dipelajari karena menyangkut penyebab kajahatan di tengah masyarakat. Nabi SAW tidak pernah marah kepada orang lain yang menyakti jika berkaitan dengan kepentingan dirinya, bahkan beliau membalas dengan kebaikan. Beliau berkali-kali disakiti oleh para penentang dakwahnya, diludahi oleh nenek tua, dilempari dengan kotoran dan lain-lain. Namun beliau akan sangat marah jika ada syariat Islam yang dilanggar dan dihina oleh orang lain atau ada kehormatan Islam dan ummatnya yang disepelekan. Sayyidina ‘Ali bin Abu Thalib ra. berkata, “Nabi SAW tidak marah karena urusan dunia. Jika beliau marah karena membela kebenaran, tidak ada seorang pun yang mengenalnya. Tidak ada yang menghentikan kemarahannya hingga beliau menanangkannya.” Beliau mengajarkan kita untuk dapat menahan marah jika berkaitan dengan kepentingan diri.

Penilaian: 1 / 5

Aktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

WhatsApp Image 2017 08 28 at 11.45.42Oleh: SYAMSURIYANTO, S.Kom.I

(Dewan Muwajjih Pusat Ma’had al Jamiah UIN Sunan Ampel Surabaya)

« تَبَسُّمُكَ في وَجْهِ أَخِيكَ صَدَقَةٌ »

Rasulullah SAW bersabda, “Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu.“ (HR at Tirmidzi (no. 1956), Ibnu Hibban (no. 474 dan 529) dan lainnya, dari Abu Dzar r.a.).

Menurut hadits di atas, dalam ajaran Islam senyum bernilai ibadah. Seulas senyuman yang disunggingkan kepada seseorang senilai dengan sedekah. Makna sedekah tak hanya uang dan harta, senyum merupakan sedekah yang paling gampang namun juga bisa menjadi sangat sulit diberikan seseorang. Tak perlu modal besar untuk senyum, sedikit ‎saja menarik wajah dan bibir sehingga menciptakan sebuah senyuman yang indah, manis dan menawan.

Penilaian: 1 / 5

Aktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

AfifOleh: Muhammad Afif Yuniarto, S.H.I., M.Ag.

Situs www.muslimpopulation.com merilis jumlah penduduk muslim dunia saat ini mencapai 2.08 miliar. Jumlah tersebut melebihi jumlah penduduk Kristen dengan total sekitar 2.01 miliar. Bahkan dalam situs tersebut disebutkan bahwa di tahun 2030 diperkirakan satu dari tiga penduduk dunia adalah muslim, atau jika diprosentase, jumlah penduduk muslim dunia pada tahun 2030 adalah 33 persen lebih dari total penduduk dunia. Hal ini menunjukkan bahwa secara kuantitas, jumlah penduduk Muslim tak perlu diragukan lagi. Tapi pertanyaannya sekarang, apakah kuantitas penduduk Muslim tersebut berbanding lurus dengan kualitas keberagamaannya?

Scgeherazade S Rehman dan Hossein Askari, dua orang guru besar asal The George Washington University pernah melakukan penelitian berjudul “How Islamic Are Islamic Countries?” dengan pertanyaan dasar “Seberapa jauh ajaran Islam dipahami dan mempengaruhi perilaku masyarakat Muslim dalam kehidupan bernegara dan sosial? yang hasilnya dipublikasikan dalam Global Economy Journal pada tahun 2010. Hasil dari penelitian tersebut cukup membuat banyak kalangan muslim dunia terhenyak, sebab dari 208 negara di dunia yang diteliti, urutan pertama negara paling Islami ditempati oleh Selandia Baru yang notabene bukan negara Islam. Sedangkan 56 negara-negara Islam yang tergabung dalam OKI (Organisasi Kerja sama Islam)  rata-rata berada di urutan 139. Adapun Indonesia menempati posisi ke-140. Ini menunjukkan bahwa kuantitas keislaman dari segi pemeluk, tak selamanya menentukan kualitas dalam berislam.

Halaman 1 dari 4

Hak Cipta © 2019 Pusat Ma'had Al-Jami'ah UIN Sunan Ampel Surabaya.