Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang

mbah maimunOleh: Dr. Wasid, SS., M.Fil.I (Sekretaris Pusat Ma'had Al-Jami'ah UINSA)

Tulisan kedua tentang Mbah Maimoen melanjutkan tulisan dihari yang ke-7 berkaitan dengan “sowan” penulis yang tidak sengaja di dalem beliau. Dikatakan tidak sengaja sebab penulis mulanya hanya memenuhi undangan Dinas Kebudayaan, Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Rembang Jawa Tengah bertajuk Seminar dalam rangka Revitalisasi dan Reaktualisasi Budaya Lokal pada hari Rabu tanggal 9 Nopember 2016 di Pendopo Museum RA. Kartini Rembang. Tidak tahu mengapa harus mengundang penulis, tapi penulis meyakini bahwa Ustadz Amirul Ulum, santri Sarang dan penulis buku yang mengusulkan nama sebagai pembanding diskusi Bukunya yang berjudul “Kartini Nyantri” kepada panitia pelaksana.  

Tidak disangka-sangka, di forum ini pula penulis duduk semeja dengan Dr. KH. Abdul Ghofur (salah satu putra Mbah Maimoen Zubair), dan Ustadz Amirul Ulum sebagai penulis. Diskusi berjalan sesuai dengan rencana, khususnya membahas tentang peran dan potensi wisata religi kaitan dengan makam RA. Kartini. Semua menyepakati pengembangan makam tokoh sebagai wisata religi, bukan saja menjadi pemantik agar para ziarah datang untuk berdo’a. Tapi juga menjadi sarana untuk menggerakkan ekonomi umat sebagaimana terjadi di beberapa makam ulama dan penyebar Islam awal, seperti makam Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Muria, dan lain-lain, yang menggeliatkan ekonomi umat.

Selebihnya, penulis lebih banyak mendengar petuah-petuah menyegarkan dari Gus Ghofur Maimoen kaitannya bagaimana sosok Kartini dilihat dari kacamata sebagai santri(wati) dengan melihat fakta sejarah bahwa beliau pernah bersinggungan dengan KH. Saleh Darat Semarang. Salah satu pembacaan Gus Ghofur, penyematan RA. Kartini sebagai santri tidak dimaknai seperti halnya santri yang pernah mondok bertahun-tahun, tapi dimaknai bahwa RA. Kartini adalah putri Muslimah yang cerdas dan pernah mengaji atau belajar kepada Kiai Saleh Darat.

Setelah forum selesai, Ustad Amirul mengawali perbincangan, setelah ini kemana pak? Masak langsung kembali ke Suroboyo dengan logat jawa yang sangat kental. Penulis, hanya bisa menjawab, monggo terserah sampean?, yang pasti aku mau ke makam ulama Lasem yang berada di Masjid Jami’ Lasem, eman kalau tidak mampir. Ustad Amirul, langsung menjawab okey pak, ikut saya aja sepedaan, biasa perjuangan hhhhh. Nanti, saya antar pisan untuk sowan ke Mbah Maimoen, insyaallah hari ini beliau ada di dalem.

Tanpa berpikir panjang, penulis mengikuti tawaran Ustad Amirul sekalian dalam rangka berharap keberkahan para masyayikh pesantren sebagai wasilah kepada Allah SWT agar dekat ulama dan keturunan menjadi anak yang sholih-sholihah, terkhusus anak ketiga bisa sembuh yang sejak bayi divonis mengidap penyakit dalam. Berwasilah bukan meminta, tapi menjadi perantara sebab para ulama Lasem dan Sarang adalah orang-orang sholih yang bukan saja ilmunya mendalam, tapi juga ibadahnya luar biasa. Berwasilah dengan beliau-beliau yang dekat dengan Allah adalah jalan mudah agar semua hajat dikabulkan olehNya, itulah pemahaman penulis yang diajari leluhur dan para guru-guru di pesantren.

Penulis akhirnya, digonceng Ustad Amirul dengan menaiki sepada Honda Bird Merah Hitam melintasi Kota Rembang, lintasan kota lama Lasem yang penuh sejarah, pinggiran pantai Lasem dan mampir di Masjid Jami’ Lasem; sambil sholat dan ke maqbaroh ulama Lasem. Di sini, penulis dikenalkan dengan Ustad Abdullah Hamid, salah satu pengurus masjid yang santri asal usul Madura, sekaligus pemerhati sejarah Lasem. Sekilas penulis darinya kenal tentang dinamika Masjid Jamik Lasem, hingga makam-makam masyayikh Lasem.

Termasuk di area makam Masjid Jami’, penulis diperkenalkan --oleh Ustad Abdullah Hamid-- dengan makam Mbah Srimpet, yang konon nama aslinya Adipati Tejakusuma 1. Mbah Srimpet adalah sosok bijak dan cerdas serta tercatat sebagai menantu Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya atau dikenal dengan Joko Tingkir. Setelah itu, penulis geser melanjutkan perjalanan dengan membawa air kijing makam Mbah srimpet, yang diyakini banyak khasiat sesuai niat orangnya. Pastinya, semua dengan ijin dan kuasa Allah Swt.    

“Sowan” dan Air Suwuk

Setelah perjalanan cukup lama di atas sepeda motor, akhirnya penulis bersama Ustad Amirul Ulum masuk daerah Sarang Rembang. Dalam benak selalu berdoa, semoga ditakdirkan sowan untuk bertemu kembali dengan Mbah Maimoen Zubair, sekalipun dengan maksud yang berbeda, yaitu meminta air suwuk dari Mbah Maimoen Zubair. Sambil menunggu waktu untuk ke dalem, penulis diajak mampir ke salah satu kamar para ustad Sarang dalam rangka Istirahat sejenak dan sholat, sambil leye-leye menahan sakit sebab sepeda sempat tergelincir depan jalan raya Sarang.

Setelah selesai, Ustad Amirul mengajak ke dalem Mbah Maimoen kira-kira 50 meter dari kamar ustad Sarang. Setelah selesai, penulis menyaksikan betul bahwa dalem sangat ramai tamu, yang sama-sama menginginkan petuah-petuah dari beliau. Hanya saja, penulis diuntungkan sebab Ustad Amirul sangat dekat dengan Mbah Maimoen. Ketika mengucapkan salam, Mbah Maimoen langsung menjawab dan tahu betul yang datang adalah Santrinya, UStad Amirul. Dari sini, penulis leluasa dengan cepat untuk mengaturkan maksud.

Penulis tidak mau berpikir panjang, setelah berada di depan Mbah Maimoen langsung mendekat dengan menyerahkan air Aqua besar 1500 ml, sambil membisik dengan lirih: Mbah Kiai, kulo minta doanya untuk kesehatan anak kulo?, mniko kulo bekto air minum?. Tanpa diduka, Mbah Maimoen mengajukan pertanyaan pula, wes digowo ten dokter geh lan sakit nopo ?. Penulispun menjawab, usaha dhahir sampun kulo lakoni dan penyakit dalam bawaan sejak bayi. Tinggal berkah doa panjenengan melalui wasilah air. Lek nguno yo wes, tegas beliau. Lantas Mbah Maimoen membaca doa-doa dengan lirih dan khususk beberapa menit sambil meniupkan air yang sudah dibuka sebelumnya oleh penulis.

Penulis merasa betul-betul lega bisa ditakdirkan untuk kedua kalinya sowan, hanya untuk meminta Air suwuk penuh keberkahan. Bagi penulis Mbah Maimoen adalah kiai palipurna, mengingat –mengutip tipologi para peneliti— dalam pribadi Mbah Maimoen terpotret sebagai sosok Kiai gentong, Kiai Ceret atau Kiai Talang. Dikatakan Kiai Gentong, sebab kealiman Mbah Maimoen telah menyedot santri-santri dari berbagai daerah di Indonesia untuk mengaji di pondok al-Anwar Sarang. Bahkan layaknya Gentong, air keilmuan Mbah Maimoen tidak pernah habis diambil dengan kadar santrinya yang bermacam-macam ketiak mengaji, tapi malah terus memancarkan keberkahan hingga banyak terlahir dari beliau kiai-kiai kenamaan yang dikenal alim di daerahnya masing-masing, termasuk di ruang yang lebih luas duni medsos.

Mbah Maimoen juga dikenal sebagai Kiai Ceret sebab beliau juga mendatangi undangan ceramah, baik orang biasa maupun pemerintah. Baik perkotaan, maupun pedesaan yang jalannya harus dilalui dengan estra karena becek atau jalannya berbentuk macadam. Sungguh petuah-petuah beliau selalu dirindukan jama’ah sebab membuat sejuk peminatnya, dan tidak sedikit memberikan pencerahan hal-hal baru soal beragama, bermasyarakat dan berbangsa sebagaimana kita lihat beberapa petuah beliau di youtube atau media sosial.

Sementara, juga disebut sebagai Kiai Talang, mengingat Mbah Maimoen selalu memberikan air keilmuan dan kesejukan kepada siapapun, tanpa pandang bulu lawan atau kawan. Baginya, menurut tafsiran penulis, dakwah ilmu harus disampaikan kepada siapapun, dengan tetap berpegang pada kebenaran pemahaman, dan kesantunan berproses. Laksana, talang yang mengairi air sehingga dinikmati semua orang, termasuk hewan dan tanaman.

Setelah memperoleh air Suwuk, penulis langsung minta pamit sambil memegang erat tangan dingin beliau yang penuh berkah sebab selalu digunakan untuk berzikir dan memulak malik lembaran al-Quran atau kitab-kitab kuning. Penulis, merasakan dengan air Suwuk ini, keberkahan Allah terus mengalir; setidaknya menambah keyakinan bahwa penyakit apapun bisa disembuhkan, asal tetap berproses secara alamiah, sekaligus pasrah penuh kepada Allah . Dengan begitu, air Suwuk ini akhirnya, tidak saja diminumkan untuk anak putra, tapi juga kepada 2 kakaknya, yang sama-sama putri. Harapannya, semoga doa-doa berkah mbah Maimoen yang ditiupkan ke air terus mengairi keberkahan hingga menjadi anak Sholih dan sholihah.

Itulah catatan, 2 petemuan sowan ke mbah Maimoen. Begitu mulianya beliau dengan kedalaman ilmu, amal, dan konsistensi menjaga kesejukan umat. Kita berharap semoga doa-doa dan kebaikan mbah Maimoen terus menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus menebarkan keteduhan, sekaligus menjaga kondisi agar terus sejuk. Capaian mulia diakhir hayat Mbah Maimoen tidak lepas dari komitmennya atas perwujudan nilai-nilai tersebut sehingga pihak kerajaan Arab Saudi sangat membuka sebar-sebar agar beliau dimakamkan di Ma’la, termasuk barokah lantunan Qaidah spesial Mbah Maimoen kaitan berharap kebahagiaan di dunia dan di akhirat sehingga berkah Allah SWT makamnya dekat dengan Sayyidah Khodijah di Ma’la. Salah satu liriknya sebagaimana berikut:

سَعْدُنَا بِالدُّنْيَا فَوْزُنَا بِالْأُخْرَى*بِخَدِيْجَةَ الْكُبْرَى وَفَاطِمَةَ الزَّهْرَا

"Kita berharap kebahagiaan di dunia dan keberuntungan di akhirat"

"Dengan -perantara- Sayyidah Khodijah al-Kubro dan Sayidah Fatimah al-Zahro"

Akhirnya, semoga Mbah Maimoen padang kuburnya di tempat yang mulia Ma’la bertemu dengan orang-orang yang mulia. Kita generasi setelahnya niscaya wajib menjaga dan merawat spirit warisan perjuangan beliau sebagai bentuk rasa cinta dan kekaguman kita kepada beliau, sebagai pewaris Nabi dan Kiai penjaga tradisi, penguat kesadaran serta pemompa kecintaan pada bangsa, dan penyejuk umat sepanjang masa. Lahul fatihah. (*)

Penilaian: 1 / 5

Aktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

mbah maimunOleh: Dr. Wasid, SS., M.Fil.I (Sekretaris Pusat Ma'had Al-Jami'ah UINSA)

Ketika informasi menyebar dengan cepat ke penjuru jagat kaitan meninggalnya al-Allamah KH. Maimoen Zubair, selanjutnya disebut Mbah Maimoen, di Makkah al-Mukarromah pada hari Selasa tanggal 5 Dzulhijjah 1440 H atau 6 Agustus 2019 dengan umur 90 tahun, yang lahir pada 28 Oktober 1928. Beliau akhirnya dimakamkan di Ma’la Arab Saudi; sebuah area pemakaman mulia dan penting sebab menyambungkan beliau dengan ulama Nusantara, seperti Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Mahfudh Termas, Syaikh Yasin al-Padani, dan lain-lain, termasuk berdekatan dengan makam Sayyidah Khodijah al-Kubro ‘alaha al-salam.  

Banyak pihak merasa kehilangan akan sosok kiai sepuh yang meneladankan keteduhan beragama dan berbangsa. Bukan hanya Muslim, tapi Non Muslim merasa kehilangan sangat sebab keteduhan Mbah Maimoen nampaknya juga dirasakan semua orang. Banyak sekali komentar dan tulisan dengan berbagai cara pandang melihat sosok dan keteladanan Mbah Maimoen; dari sebagai Sosok penjaga tradisi, mengutip Prof. Masdar Hilmy (rektor UINSA) dalam tulisannya di Kompas beberapa hari lalu (8/9), hingga komentar KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus) di media Jawa Pos (12/9) yang menyebut Mbah Maimoen sebagai “Kiai Bangsa yang Mencintai dan Dicintai”.

Untuk itu, di hari ke-7 meninggalnya mbah Maimoen, penulis memaksakan diri, meskipun mungkin dianggap terlambat dan sebenarnya cukup berat mengomentari tentang beliau dengan keteladan yang cukup sempurna di tengah kehidupan berbangsa miskin keteladan; baik dalam beragama maupun berbangsa. Maunya, menulis dengan cepat setelah ada kabar beliau wafat, tapi sulit raga bergerak menyatukan gagasan dan kemauan duduk menulis, mengingat betapa mulianya beliau hingga dimakamkan di Ma’la bersama para ulama dan para tokoh sufi kenamaan.

Bagi penulis, sekalipun tidak pernah mulazamah di Pondok Pesantren Sarang Rembang, mbah Mbah Maimoen merupakan sosok ulama sepuh yang allamah, teduh dan menyejukkan, bahkan mudah membuka dialog dengan siapapun kaitan persoalan apapun yang diajukan, termasuk yang muncul dari kalangan muda. Betapapun penulis pernah dua kali ditakdirkan datang (baca: sowan) di dalem Sarang, di tengah-tengah antri bersama para kiai, santri, tokoh politik dan lain yang juga berharap petuah teduh beliau hingga bisa lepas dan bersikap bijak dalam menyikapi segala problematika kehidupan serta bisa selamat dunia-akhirat.

 

“Memaknai “Sowan”

Sowan kali pertama, penulis mewakili tim penulisan buku “Biografi Kiai Abdul Mujib Abbas; Sang Pencinta Ilmu yang Konsisten”  bersama Ustad Syuaib Nur Ali, Ustad Hatmun, dan Ustad Akhmad dari Lembaga Pesantren al-Khoziny Buduran Sidoarjo pada tanggal 11 Mei 2012. Sowan kali ini dalam rangka meminta pandangan beliau, sekaligus pengantar atas buku yang dimaksud, mengingat Kiai Mujib adalah alumni Sarang, santri Kiai Zubair Dahlan (ayahanda Mbah Maimoen), dan berteman sekamar dengan KH. Sahal Mahfudh (Allah Yarham) serta KH. Minan Ustman Surabaya. Dari Surabaya rombongan berangkat tengah malam, yang harapan bisa sowan dengan mudah, setelah Mbah Maimoen mengajar di depan para santrinya setiap pagi hari.

Al-Hasil, penulis dan rombongan sampai di Sarang, sambil menunggu Mbah Maimoen membaca kitab kuning; salah satu kitab yang dibaca adalah Kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam al-Ghazali. Setelah selesai, kami dipersilahkan masuk bersama  dengan tamu-tamu lain dari berbagai daerah. Tanpa komentar panjang, semua dipersilahkan sarapan dulu, sebelum mengutarakan maksud dengan bergiliran. Tepat pada gilirannya, penulis mengajukan maksud dan permohonan agar beliau berkenan memberikan pengantar rencana penerbitan buku Kiai Mujib Abbas Sidoarjo (allah Yarham).

Pertemuan tidak cukup lama, tapi petuah-petuah Mbah Maimoen sangat segar dan progresif. Apalagi, ketika mengomentari Kiai Mujib. Bagi Beliau, Kiai Mujib yang alumni MUS adalah salah satu kiai yang terbuka sehingga menerima modernisasi di pesantren, termasuk dengan adanya kampus. Soal modernisasi Pesantren, Mbah Maimoen mengutip kaedah yang cukup populer di kalangan pesantren dan NU: al-Muhafadhah ‘ala al-Qodim al-Shalih wa al-akhdu bi al-Jadid al-Ashlah (menjaga tradisi lama yang baik, sekaligus mengambil yang baru lebih baik).

Kutipan kaedah di atas, dimaknai oleh Mbah Maimoen bahwa pesantren sudah saatnya menerima keterbukaan dalam pendidikan, termasuk menerima nilai-nilai modern. Tapi, yang harus diperhatikan, jangan sampai atas nama modern dengan memasukkan pendidikan umum, lantas orang-orang pesantren melupakan tradisinya sebagai pengkaji kitab kuning dan tatakrama. Intinya, menurut tafsiran penulis, kita semua insan pesantren dan Muslim pada umumnya jangan mudah latah menerima perubahan hanya takut tidak dikatakan sebagai orang modern. Jangan pernah korbankan jati diri, untuk tergesa-gesa merespon hal baru yang tidak pasti kemanfaatannya jangka panjang.

Mulanya hanya minta pengantar, tapi berujung pada perbincangan beliau secara mendalam tentang pentingnya modernisasi pesantren dengan Kiai Mujib sebagai pemantik dialog. Sungguh, keterbukaan berdiskusi dengan Mbah Maimoen mengagetkan penulis sebab memberikan waktu agak lama, meskipun kami adalah santri-santri Muda. Itulah kepribadian beliau, tetap menerima tamu dan mau berdialog memberikan pencerahan teduh dalam menyikapi kehidupan; terkhusus kaitan masa depan pesantren, sekalipun yang dihadapi santri muda.

Lagi-lagi pikiran dan sikap mbah Maimoen mengambarkan kedalaman ilmu beliau (allamah), yang diusia sangat sepuh tetap menyikapi kondisi kekinian umat; baik urusan beragama maupun berbangsa, termasuk tetap “ngemong’ membaca kitab Kuning di depan santri-santri Sarang. Pencerahan teduh dialogis di atas mengambarkan keterbukaan beliau dalam menerima nilai-nilai modern, sembari mengingatkan kita untu menjaga jati diri agar tidak hilang karakter sebagai Muslim Indonesia.

Sowan kali pertama ditutup dengan pesan beliau yang sangat mendalam agar “santri harus tetap memegang jati diri”. Setelah itu, kami pamitan dan mencium tangan beliau dengan penuh penghormatan dan berharap berkah keteduhannya meluber setiap saat. Penulis merasa pertemuan ini sangat singkat, tapi penuh makna dan pelajaran bagi hidup. Kamipun kembali ke Surabaya sekitar pukul 08.30 dengan membawa pesan yang cukup berat soal pentingnya menjaga jati diri. Dalam batin terucap matur nuwun waktu dan ilmunya mbah Yai. 7 tahun setelah sowan kali pertama, beliau pergi selamanya menghadap Tuhannya, Allah SWt. Lahul Fatihah. (bersambung-)

Penilaian: 1 / 5

Aktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

adha19Oleh: Dr. Wasid SS., M.Fil.I (Sekretaris Pusat Ma'had Al-Jami'ah UINSA)

Tanggal 10 Dzulhijjah, jutaan bahkan milyaran Muslim sedunia serentak merayakan hari raya Idul Adha atau sebagian menyebut Idul Kurban, termasuk di negeri kita tercinta, Indonesia. Ritual tahunan yang tidak hanya dianjurkan sholat Id, tapi ada perintah untuk menyembelih hewan kurban bagi mereka yang mampu.

Dalam konteks sejarah peradaban manusia, ritual Idul Adha memiliki kaitan yang sangat mendalam dengan peristiwa dan teladan Nabiyullah Ibrahim As. dan Nabiyullah Ismail As; peristiwa kemanusiaan yang mengajarkan tentang keutuhan cinta dalam bingkai pengesaan tulus kepada Allah Swt (baca: tauhid).

Keteladanan kedua Nabi di atas, berikut keluarganya juga diabadikan dalam beberapa ritual haji, yang ceritanya juga diabadikan dalam al-Qur'an. Karenanya, momentum  Idul Adha mengajak kita agar bisa belajar tentang ketulusan cinta, tanpa pamrih. Tanpa cinta yang tulus tidak mungkin Nabi Ibrahim menerima perintah Allah Swt. untuk menyembelih anaknya. Dan tanpa cinta yang tulus pula, pasti Nabi Ismail menolak perintah Allah melalui ayahya sendiri.

Totalitas cinta mampu mematikan egoisme keduanya agar semata-semata berharap ridhoNya. Ketika itu terjadi, maka cinta yang tulus melahirkan cinta pada jagat semesta, terlebih kepada manusia sesama sebagaimana Allah mengganti domba. Karenanya, ada dua hikmah, mengutip Syaikh Ali  Almad al-Jurjawi dalam Bukunya Hikmat al-Tasyri' wa Falsafatuhu, dianjurkannya menyembelih kurban.

Pertama, menampakkan kesempurnaan taat kepada sang Khaliq (idhharu tamami al-ta'ah li al-Khaliq). Mengorbankan anaknya atas perintah Allah adalah puncak dari pembuktian cinta kepadaNya sebagaimana dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan didukung pula oleh Nabi Ismail.

Tidak ada cinta, tanpa pengorbanan. Orang yang mencintai Allah dan RasulNya, tapi belum ada pembuktian ketaatan, maka bisa dipastikan cinta itu adalah cinta palsu sebab cinta merupakan kesesuaian dengan yang dicinta. Hal ini sesuai dengan perkataan Imam al-Ghazali dalam kitabnya Mukasyafat al-Qulub, 47 sebagai berikut:
وعلامة المحبة موافقة المحبوب واجتناب خلافه
"Tanda-tanda cinta adalah adanya kesesuaian dengan yang dicintai. Dan menjauh untuk berbeda dengannya."

Kedua, pernyataan bersyukur kepada Allah atas kenikmatan tebusan sehingga bisa berbagi kepada sesama (al-Qiyam bi al-Syukr 'ala Nikmati al-fida'). Bisa dibayangkan, jika Nabi Ismail benar-benar tersembelih, tanpa tebusan domba, bagaimana nasib peradaban manusia setelahnya ?. Allah mengajarkan bahwa kambing adalah simbol kepedulihan, sekaligus agar kita redam unsur hewani sehingga tidak liar memandu hidup kita.

Syukur kepada Allah meniscayakan agar kita mengingat sesama, bukan malah menghamba pada ego. Kambing, unta atau sapi adalah simbol ketaatan, sekaligus kepedulian pada sesama. Bukankah iman kepada Allah dalam al-Quran hampir dipastikan selalu disertai dengan amal shaleh, yang salah satunya peduli kepada sesama.

Konteks Berbangsa

Dalam konteks kehidupan berbangsa, rasa cinta -sebagaimana manjadi spirit berkurban- layak ditanamkan secara mendalam dengan tulus dalam benak sanubari kita, apalagi momentum bulan Agustus adalah bulan dimana kemerdekaan bangsa Indonesia diperoleh; tepatnya tanggal 17 Agustus1945.

Cinta kepada bangsa atau Hubbu al-Wathan menjadi lampu penerang agar semua aktivitas bermuara menuju kondisi bangsa yang lebih baik. Para pendiri bangsa, bisa disebutkan mulai dari Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Din hingga Soekarno, Hatta serta KH. Hasyim Asy'ari dan lain-lain telah meneladankan kecintaan luhur kepada bangsa dengan cita-cita luhur memimpikan bangsa merdeka, mandiri, dan penuh kedamaian. Pasalnya, sengsara dibawah ketiak penjajah adalah bentuk penistaan dan tidak manusiawi sehingga harus dilawan, atas nama hubbul wathan.

Beliau-beliau  telah berkorban harta hingga nyawa sebagai bukti cinta kepada bangsanya. Baginya, mencintai bangsa adalah pembuktian dengan terlibat aktif berjihad untuk melawan siapapun penjajah yang merusak nilai kemanusiaan atas nama penjajahan. Pertanyaannya kemanusiaan, sudahkah kita semua benar-benar mencintai bangsa ini ?, atau cintanya masih setengah hati ?.

Sungguh betapa sulitnya menjawab pertanyaan itu kaitannya kontribusi kita untuk membalas atas jasa yang telah ditolehkan para pendiri bangsa hingga mengantarkan bangsa ini merdeka. Tapi, tugas penting dan pokok yang tidak boleh dilupakan adalah senantiasa merawat warisan ideologis para pendiri bangsa (the founding fathers); setidaknya warisan itu adalah  Pancasila dan UUD 1945. Jika tidak ada komitmen menjaga  warisan ini, maka sejatinya kecintaan kita kepada bangsa hanya bersifat semu sebab tidak ada pembuktian secara riil mengawal identitas bangsa.

indoKita lahir, hidup menghirup udara dan insyaallah kelak akan meninggal di bumi Indonesia. Bagaimana bisa kita "berak" atau mengotorinya dengan tindakan atau  bangga menebarkan narasi ideologis yang bertentangan dengan warisan para pendiri bangsa. Karenanya, cinta harus ada kesesuian dengan yang dicintai. Tidak boleh bertepuk sebelah tangan, memikirkan kepuasan individu dan kelompok dengan mengabaikan kemaslahatan yang lebih luas bagi bangsa.

Jadi, semangat cinta luhur yang diteladankan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail layak diteruskan dalam konteks kebangsaan agar kita menjadi individu yang selalu peka secara sosial sebagaimana simbol kesalehan sosial dari makna penyembelihan kurban.

Akhirnya, mari kita belajar cinta kepada bangsa dengan tulus. Tanpa menuntut banyak harapan, kecuali sejauhmana kebaikan dan kemaslatan itu dilakukan bagi bangsa, demi generasi berikutnya. Dan Momentum berkurban adalah upaya menekan agar ego tidak menguat sebab jika dibiarkan bukan hanya pelakunya yang bermasalah, tapi bangsa ini akan tercabik-cabik. Selamat Idul Adha dan Merdeka.(*)

 

Penilaian: 1 / 5

Aktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

salam salaman

Oleh: Wasid Mansyur (Pusat Ma'had al-Jami'ah)

Melanjutkan tulisan sebelumnya, kita meyakini mudik sangat penting dalam rangka untuk membangkitkan ingatan kita tentang sejatinya kita hidup sebagai mahluk sosial, sekaligus sebagai hamba Allah yang selalu merindukan rahmat dan kasih saying-Nya sehingga dalam kesehariannya kita tidak pantas untuk meninggalkan ibadah kepada-Nya.

Karenanya, sebagai lanjutan agar kita tetap istiqamah merawat spirit luhur melakukan mudik atau pulang kampung halaman atau Toron, khususnya ketika sampai ditujuan ; pertama, mari mudik dijadikan sarana untuk memperkuat jalinan silaturrahim. Jalinan silaturrahim dengan kerabat, tetangga, orang tua, para guru yang telah mendidik atau bahkan orang-orang terdekat yang telah mendahului kita dengan mendatangi makamnya, sekedar untuk menyapa dan menyambungkan energi doa melalui bacaan Yasin dan Tahlil.

Dalam kehidupan yang luas, jalinan silaturrahim ini sangat penting dalam rangka menjaga persaudaraan agar terus terjaga. Begitu pentingnya silaturrahim ini, Nabi Muhammad Saw. Mengaitkan kesempurnaan iman seseorang dengan menyambung jalinan silaturrahim sebagaimana potongan hadith di bawah ini:

....ومَن كانَ يُؤْمِنُ باللَّهِ واليَومِ الآخِرِفَلْيَصِلْ رَحِمَهُ..

"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jagalah silaturrahim".

Hadith ini sangat jelas perintahnya sehingga bila dipahami sebaliknya atau mafhum mukhalafah menunjukkan bahwa "orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak pantas memutuskan tali silaturrahim dengan kerabat dan lain-lain. Pasalnya, orang yang beriman semestinya mengutamakan persaudaraan, bukan malah memutuskan. Jika ia memutuskan berarti kualitas imannya masih perlu dipertanyakan sebab iman bukan dimulut, tapi juga dalam perbuatan, yakni menyimani bahwa pesan Nabi harus dilakukan.

Kedua, mudik bukan momentum pamer. Tapi dalam rangka berbagi. Mereka yang mudik tidak sedikit telah menyiapkan sesuatu yang serba baru, baju baru, sepatu atau sandal baru, sepeda motor atau mobil baru, dan apapun serba baru. Pilihan baru ini penting, tapi terkadang dimaknai sebagai simbol kesuksesan. Karenanya, apapun yang baru secara fisik jangan sampai melupakan sisi kebaruan secara rohani, apalagi momentum mudik memiliki ikatan yang kuat dengan nialai keluhuran dalam hari raya idul fitri. Untuk itu imam ibn Rajab mengatakan dalam kitabnya Lathaif al-Ma’arif:

ليس العيد لمن لبس الجديد، إنما العيد لمن طاعاته تزيد، ليس العيد لمن تجمل باللباس والركوب، إنما العيد لمن غفرت له الذنوب، في ليلة العيد تفرق خلق العتق والمغفرة على العبيد؛ فمن ناله منها شيء فله عيد، وإلا فهو مطرود بعيد.

"Idul (filtri) bukanlah untuk yang bajunya baru, tetap terkhusus bagi yang ketaatannya meningkat. Idul (fitri) bukan untuk orang yang berhias dengan baju dan kendaraan, melainkan khusus bagi orang yang dosa-dosanya diampuni. Di malam Idul (fitri) budak-budan atau hamba akan dimerdekakan dan diampuni dosa-dosanya. Jadi siapapun orangnya yang memperoleh ampunan, berarti ia Id (atau kembali suci). Sebaliknya orang yang tidak memperolehnya, ia tergolong orang yang tertolak dan jauh (dari rahmatNya)".

Dengan bagitu, hilangkan semangat menyombongkan diri atau memamerkan kekayaaan dalam kebaruan yang bersifat fisik di tengah-tengah kegiatan mudik untuk bersilaturrahim dengan para sanak keluarga. Pasalnya, jika hal ini diabaikan, berarti anda telah merusak jati diri bersilaturrahim, yang semestinya mengedepankan cinta dan kasih dalam bingkai merawat persudaraan.

Ketika kita pamer atau sombong dengan pakaian baru yang serba mahal, misalnya, maka sangat dimungkinkan orang lain merasa tersinggung. Betapa menggangu perasaan orang lain sangat dilarang oleh agama. Mestinya, semangat yang diterapkan adalah  tebar kebaikan, termasuk menggelorakan semangat berbagi.

Itu artinya, mereka yang sukses merantau lantas mudik bukanlah yang suka memamerkan kekayaan kepada orang lain. Tapi mereka yang memiliki kepedulian kepada siapapun, khususnya masyarakat terdekat di kampung halaman. Dan mereka yang hanya pamer kekayaan sejatinya telah lupa diri, tertutupi dirinya dengan hubbu al-dunya atau cinta dunia secara berlebihan. Bukankan, hakekat kekayaan adalah yang kita sumbangsihkan kepada orang lain yang kelak menjadi amal jariyah.

Akhirnya, marilah mudik atau toron dengan santun dalam spirit kebersamaan menuai hikmah dihari kemenangan ber-idul fitri. Jangan kotori dengan sikap kita yang merugikan orang lain sebab itulah sejatinya mereka yang menang dihari Nan fitri. Mohon Maaf Atas segala Khilaf. Selamat Idul Fitri 1440 H/2019 M

gambar dikutip: https://www.google.com/search?biw=1920&bih=969&tbm=isch&sa=1&ei=yQP2XN_UAou4sgX0zISwCA&q=gambar+idul+fitri+dan+salam+salaman&oq=gambar+idul+fitri+dan+salam+salaman&gs_l=img.3...217.2854..3328...0.0..0.322.5351.2-12j6......0....1..gws-wiz-img.......0j0i67j0i8i30.tIlK9CQVZ8Q#imgrc=L5LyX6K_HlhgKM:

Halaman 1 dari 9

Hak Cipta © 2019 Pusat Ma'had Al-Jami'ah UIN Sunan Ampel Surabaya.