IN MEMORIAM KH. MUHAMMAD ZAKI HADZIK

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

duka web

Oleh: Wasid Mansyur
(Sekretaris Pusat Ma’had al-Jami’ah, Dosen FAH UIN-SA)

  “Santai mas. Aku insyallah siap teko sambil membawa kitab
Risalah Ahl Alsunnaah Wa Al-Jama’ah agar disebarkan kepada mahasiswa,
sekaligus mengijazahkan. Kita ketemu depan rektorat UINSA”
(02 September 2018)

Kutipan di atas adalah salah satu perkataan KH. Muhammad Zaki Hadzik (Gus Zaki), ketika diundang untuk memberikan kepastian hadir dalam pembukaan pengajian Kitab Risalah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah karya kakeknya, Hadratus syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Acara ini diadakan di Masjid Raya Ulul Albab UIN Sunan Ampel Surabaya bersama pimpinan ma’had dan seluruh mahasiswa baru UINSA Angkatan 2018-2019 pada hari Selasa tanggal 04 September 2018.

Namun, malam kamis ini tanggal 1 Juli 2020, kita semua dikagetkan bahwa Gus Zaki telah meninggal dunia melalui pesan berantai di media sosial. Pesan atas meninggalnya Gus Zaki sangat cepat di berbagai group watshapp tepat setelah sholat isya’ sehingga banyak pihak yang merasa kaget, bahkan merasakan kehilangan tokoh muda NU yang sangat komunikatif dan progresif melakukan konsolidasi mengawal nilai-nilai keislaman dan kebangsaan melalui jaringan pesantren-pesantren di Jawa Timur, yang tercatat masih sebagai Ketua PW RMI NU Jawa Timur.

Meninggalnya Gus Zaki adalah pengingat bagi kita semua untuk terus merenungi kehidupan bahwa jika kematian sudah datang, maka tidak seorangnya yang bisa menunda walau sejenak. Yang pasti, kita semua layak mendoakan semoga Gus Zaki senantiasa khusnul khatimah dan dimudahkan menapaki jalan berikutnya dengan ridha Allah SWT. Selebihnya, kita yang masih hidup layak belajar dari warisan prilaku yang ditorehkan Gus Zaki sepanjang hidupnya, terkhusus kaitannya dengan pengabdian untuk kemaslahatan umat.

Ketika membuka pengajian Kitab Risalah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah¸ Gus Zaki sering mengingatkan agar kalangan yang hadir, khususnya mahasiswa, harus dekat dengan para ulama atau kiai. Pesan ini sangat tegas, dan dengan mengaji kitab ini ---tegas Gus Zaki—kitab semua dapat menyambungkan mata batin agar praktik beragama yang kita lakukan benar-benar memberikan makna bagi kehidupan dengan matarantai yang sambung dengan para masyayikh hingga Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Dengan begitu Gus Zaki terus menebarkan semangat ini dalam berbagai forum, setidaknya melalui forum-forum pesantren. Jabatan sebagai ketua RMI NU Jatim menjadi jariyah nyata Gus Zaki bagaimana melakukan proses konsolidasi mampu mendekatkan Kembali komunitas pesantren. Bahkan Gus Zaki melalui RMI mampu berkoneksi dengan berbagai pihak, termasuk pernah bekerjasama dengan Fakultas Sains dan Teknologi UINSA untuk mengembangkan sistem Kelola informasi pesantren dalam konteks industri 4.0 dan pengembangan fasilitas pesantren.

Begitulah, Gus Zaki yang penulis kenal. Sosok yang terbuka dengan semua kalangan. Komunitas pesantren yang membesarkannya telah menjadikan dirinya terus istiqamah melakukan konsolidasi pengabdian melalui roda pergerakan PW RMI NU Jatim. Maka, dari Gus Zaki layak kita belajar tentang pengabdian untuk kemaslahatan orang banyak, tentang keterbukaan berkomunikasi, dan tentang pentingnya memegang prinsip ideologis. “Selamat Jalan Gus”. Al-Fatihah.

Hak Cipta © 2022 Pusat Ma'had Al-Jami'ah UIN Sunan Ampel Surabaya.