Kiai Zaim Lasem; Pesan Damai dalam Halal Bihalal

Penilaian: 1 / 5

Aktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

WhatsApp Image 2019 06 10 at 10.12.45 PM

Satu hal dari kreasi agung yang diwariskan oleh para ulama Nusantara adalah menjadikan Halal bihalal sebagai sarana kumpul dan silaturrahim antar sesama. Mengapa menjadi kreasi agung?

Pertama, Halal bihalal baik secara istilah maupun praktik tidak ditemukan di negeri Arab sebagai negara asal usul Islam. Istilah Halal bihalal sulit ditemukan padanan kata dalam bahasa Arab sehingga terkesan aneh. Tapi, secara makna masyarakat Indonesia atau Nusantara cukup paham maknanya. Maka tak perlu sering ribut luarnya, melupakan maknanya.

Kedua, Halal bihalal adalah strategi dakwah kultural untuk melepaskan dosa-dosa sosial antar sesama agar segera muncul sikap sikap saling memaafkan. Dan menurut riwayat, Halal bihalal berkaitan dengan saran Kiai Wahab Habullah, ketika diminta pendapat oleh Bung Karno agar membuat acara yang mendatangkan banyak orang dari lintas ideologi dan keyakinan.

Singkat cerita, dipilihlah model Halal bihalal yang berkembang sampai saat ini. Menariknya, dalam perkembangannya tradisi ini terus dilaksanakan, bahkan tidak sedikit melibatkan hadirin dari kalangan non-Muslim.

Itulah salah satu dari pesan dalam Halal bihalal di Sport Center UIN Sunan Ampel Surabaya, yang disampaikan oleh KH. Muhammad Zaim Ahmad Ma'shum, Pengasuh Pesantren Kauman Lasem Jawa Tengah. Forum kali ini sebagaimana tahun sebelumnya adalah forum penuh makna dan berkah sebab dihadiri oleh semua keluarga besar UINSA dan masyarakat.

Paparan Kiai Zaim mengingatkan kita dalam berdakwah agar memperhatikan kearifan lokal. Pasalnya, di Indonesia ada beberapa agama, misalnya Hindu, kristen, dan Islam. Karenanya, jadilah hindu yang Indonesia bukan India.  Jadilah kristen Indonesia bukan Eropa atau Jadilah Muslim Indonesia, bukan Arab. Dengan begitu, semua harus melihat lokalitas sebagai acuan sehingga dalam kehidupan ada semangat toleransi.

Dengan memperhatikan nilai-nilai lokal, maka dakwah Islam akan berjalan dengan baik. Tanpa, ada tantangan atau perlawanan serius dari masyarakat. Sebaliknya, mereka yang cuek, akan selalu menempatkan tradisi lokal dan islam secara berhadap-hadapan. Jika demikian, jangan berharap dakwah itu sukses. Tapi siaplah mendapat perlawanan dari yang lain.

WhatsApp Image 2019 06 10 at 10.13.00 PMKiai Azaim meyakinkan hadirin agar tetap menjaga NKRI, sekalipun dalam keragaman suku, agama dan ras. Sekali lagi, Halal bihalal adalah contoh terbaik dari strategi dakwah Nusantara, sekalipun masih banyak contoh lainnya. Ia bukan saja rutinitas tahun, tapi telah menjadi potret kegiatan sosial kemanusian yang melibatkan beragam peserta.

Karenanya, rawat warisan terbaik cara dakwah ini agar ke depan Islam berkembang dengan penuh rahmat dan tradisi lokal tetap terjaga dengan baik sebagai identitas kultural kebangsaan kita. (*)

 

Sumber gambar: Group WA UINSA

Hak Cipta © 2019 Pusat Ma'had Al-Jami'ah UIN Sunan Ampel Surabaya.