Ukhuwah di Tahun Politik

Penilaian: 1 / 5

Aktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 
IMG 20190315 WA0031Oleh: Drs. Kasrowi Ahmad, M.Ag
(Alumni Senior UIN Sunan Ampel Surabaya, Muballigh)
 
Islam mengajarkan kita agar merajut terus persaudaraan sesama Islam. Persaudaraan Islam, meminjam perkataan Qurasy Shihab dalam bukunya Membumikan al-Quran, adalah persaudaraan islami atau persaudaraan yang dibangun dengan nilai-nilai Islam. Oleh sebab itu, dalam al-Qur’an tergambarkan bahwa persaudaran itu, setidaknya ada tiga model: persaudaraan sesama manusia (ukhuwah basyariyyah), persaudaraan sesama anak bangsa (ukhuwah wathaniyyah), dan persaudaraan sesama Islam (ukhuwah Islamiyah).
Pertama, persaudaraan sesama manusia (ukhuwah basyariyyah). Ukhuwah ini didasarkan pada pemahaman bahwa kita jenis makhluk yang dijadikan oleh Allah dari jenis yang sama, dan dari turunan yang sama. Penduduk dunia yang tahun 2018 berkisar 7, 53 miliar jiwa adalah memiliki jenis beragam, suku, rasa, etnis, dan agama. Tapi, semuanya, terlahir dari satu jenis yang sama dan keturunan satu (nabi Adam- nyai Hawa).
Allah menegaskan dalam al-Quran surat al-Nisa’: 
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا 
 
Artinya: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
 
Ayat di atas setidaknya memberikan petunjuk bahwa Allah menjadikan semua jenis manusia diseluruh jagat raya ini dari satu jenis, yakni Adam dan Hawa. Darinya, kemudian lahir dan menyebar dengan berbagai jenis warna, agama suku dan etnis. Perbedaan sengaja dibuat agar manusia tetap melakukan ketaqwaan, sekaligus merawat hubungan sosial dan saling silaturrahim, sekalipun berbeda. 
Karenanya, dari nilai-nilai Islam persaudaraan antar sesama manusia itu dipahami sebagai sarana untuk merajut silaturrahim dan membangun koneksi antar sesama hingga tercinta peradaban manusia penuh dengan keharmonian sebab kerjasama akan terjalin dengan baik. 
Kedua, persaudaan kebangsaan (ukhuwah wathaniyyah). Pikiran ini dapat dimulai dari kemerdekaan bangsa. 17 Agustus sebagai tanda  kemerdekaan adalah buah perjuangan atau jihad para pejuang yang dilakukan oleh semua elemen anak bangsa, baik Islam, kristen, hindu, budha dan lain-lain. Kecintaan pada bangsa mampu melepas sekat-sekat perbedaan agar bebas dari cengkraman penjajah. Semangat mencari persamaan bahwa penjajah harus di usir menjadi jalan lintas permanan yang dapat menyambungkan untuk bersatu dan bersama melawan penjajah. Merdeka atau mati, pekik yang sering terdengar dalam buku sejarah.
Pada kontes praksis, apa yang harus kita lakukan saat ini kaitan persaudaraan sesama anak bangsa?. Di atas mimbar ini saya selaku khatib mengajak mari kita rawat perbedaan ini dengan mencari titik persamaan, bukan titik perbedaaan. Angkat setinggi-tinginya nilai yang sama, dan tanam sedalam-dalamnya nilai perbedaan. Allah sebenarnya mengingatkan kepada kita tentang hal ini sebagaimana dalam surat Ali Imran-164: 
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ .....(الأية)
Artinya: "Hai Ahlul Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat sama (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu....
Ayat ini cukup jelas maksudnya, untuk menghindari konflik sesama, mari kita cari sisi persamaan. Sisi persamaan ini menjadi modal agar kita bisa saling memahami dan saling menghormati. Dan kata Ahlul kitab dalam konteks ini bisa juga berlaku antar umat Islam dengan non-Muslim pada umumnya. Di Indonesia, misalnya kristen, hindu, budha, chonghucu dan lain-lain. 
Ketiga, persaudaraan sesama Islam (ukhuwah islamiyah). Persaudaraan sesama Muslim adalah sebuah keniscayaan. Bagaimana Islam bisa maju, bila sesama Muslim selalu dirundung konflik. 
Tapi Memang, dalam peta perjalanan politik Islam kita di Indonesia. Kita memiliki “hobi” konfik. Bermula dari persatuan umat Islam di Masyumi, Islam kuat sebab memiliki kesamaan isu dengan menguatamakan kepentingan Islam secara umum, termasuk persatuan sesama iman. Tapi setelah kondisi tenang, mulailah perbedaan ideologis dalam memahami Islam sering kali menjadi pemicu, ketika dalam meng-akses kepentingan politik dan lain sebagainya. 
Akibatnya, dari pemilu ke pemilu umat Islam tidak bisa bersatu lagi, setelah Masyumi pecah, dan menjadi partai-partai lain.  Pemicunya, sekali lagi masih ribut soal hal-hal furuiyyah yang terkadang masih terjadi perdebatan dan tidak jarang saling menyalahkan. Padahal Allah sangat mengingatkan kepada kita semua sesama Muslim dan se-iman dalam surat al-Hujurat ayat 11-12:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ  وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ.
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. 
 
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
Dalam banyak tempat, kita banyak menemukan hadith Nabi menganjurkan agar kita terus menjaga persatuan antar sesama Mulim sebab sesama Muslim yang memiliki keimanan sama harus saling menguatkan (yasuddu ba’duhum ba’dhan), bukan saling menjatuhkan. Karenanya, hadith-hadith Nabi banyak ditemukan agar menghindari untuk menyakiti sesama Muslim, mulai ngibah, dengki, su’u al-Dhan, marah-marah, dan lain-lain. Pastinya, sekali lagi Nabi menganjurkan untuk bersatu, bukan bercerai berai.
Akhirnya, tahun 2019 adalah tahun politik, mari kita sikapi dengan penuh damai dan dengan kegembiraan. Artinya, sudah saatnya persaudaraan harus dikedepankan dari pada hanya sekedar urusan politik. Yang memilih pasangan nomer 1 (Jokowi-Ma’ruf), mari jangan menjatuhkan atau membenci yang lain karena memilih nomer 2 (Prabowo-Sandi) atau sebaliknya, dengan sebar hoak dan saling maki di media sosial. Jangan kita hancurkan persaudaraan, hanya karena pemilu lima tahun. Semoga kita dapat hidayahNya. Amin.
 
 
Intisari Khutbah Jumat, 15 Maret 2019 di Masjid Raya Ulul Albab UIN Sunan Ampel SUrabaya.
Hak Cipta © 2019 Pusat Ma'had Al-Jami'ah UIN Sunan Ampel Surabaya.