HAM

Penilaian: 1 / 5

Aktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

prof aliOleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag (Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya dan Da'i Internasional)

Para jamaah yang berbahagia.

Sepuluh menit ke depan, saya akan menyampaika­­n khutbah dengan judul HAM. Bukan kepanjangan dari Hak Asasi Manusia. HAM itu penting, tapi menjadi negatif jika digunakan alasan untuk melakukan pelanggaran. Unjuk rasa yang membuat jalan macet dan menyengsarakan rakyat kecil yang sumber ekonominya bergantung pada kelancaran jalan raya dilakukan dengan alasan HAM. Mencemarkan nama baik orang, bahkan berbau fitnah dilakukan dengan alasan hak kebebasan berbicara. Lebih mengerikan lagi, para wanita pekerja seks komersial, homoseks, lesbian, perkawinan sejenis dibela mati-matian dengan alasan HAM. Na’udzu billah. Maka, HAM yang saya maskud dalam khutbah ini adalah kepanjangan dari Himar, Anjing dan Monyet.

Para hadirin Yth.

Tiga hewan itu disebut dalam kitab suci Alquran untuk menyindir kita semua. Pertama, himar atau keledai. Inilah hewan yang disebutkan dua kali dalam Al Qur’an, yaitu dalam surat Luqman ayat 19, dan surat Al Jumu’ah ayat 5. Kedua ayat tersebut mengingatkan kita untuk tidak meniru himar. Ia hewan yang hanya mengangkut setumpuk barang dan buku di punggungnya, tapi sama sekali tidak memahami apa yang sedang diangkutnya itu, juga tidak merubah perilakunya. Jika buku yang kita koleksi semakin menumpuk, dan makalah yang kita tulis juga semakin banyak, tapi semuanya itu tidak menambah kemuliaan akhlak kita, lalu apa bedanya dengan himar?

Menurut Tafsir As Shawi (3: 316), himar adalah hewan yang sering meringkik tanpa sebab apapun. Jangan menjadi himar di siang hari, dan bangkai di malam sunyi (himaran fin nahaar, wa jiifatan fill ail). Maksudnya, jangan menjadi orang yang berbicara, berteriak, dan share atau berbagi-bagi kata yang tidak bernilai di siang hari, dan tidak shalat tahajud di malam sunyi.

Kedua, anjing. Inilah hewan yang disebut dalam Alquran Surat Al A’raf ayat 176 sebagai tamsil orang-orang yang tidak pernah puas dengan pemberian Allah. Kenyang atau lapar, hewan ini tetap menjulurkan lidahnya, dan menggonggong di depan manusia (in tahmil ‘alaihi yalhats, aw tatrukhu yalhats). Jika kita tak pernah pusa, serakah, tamak, dan banyak mengeluh, maka - mohon maaf,- kita disindir Alquran manusia anjing.

Ketiga, monyet. Mengapa dalam surat Al Baqarah ayat 65, Allah mengutuk Bangsa Israil, “kuunuu qiradatan khaasi-iin (jadilah kalian monyet yang hina)?. Sebab, mereka melanggar agama dengan seribu alasan. Memang manusia disebut “alqaa ma’aadzirah,” makhluk paling cerdas membuat alasan. Bangsa Israil itu meminta Nabi Musa a.s agar Sabtu dijadikan hari libur dan diharamkan bekerja, agar bisa beribadah dengan tenang. Setelah disetujui oleh Nabi Musa a.s, mereka melanggar janji, bahkan pada hari Sabtu itu mereka beramai-ramai ke laut menangkap ikan-ikan besar yang bermunculan saat itu.

Allah kemudian merubah mereka dengan muka monyet. Sebab, mereka hanya mencibir dan tak menghiraukan nasihat Musa a.s. Menurut Ibnu Abbas a.s, mereka benar-benar berubah menjadi monyet, lalu merusak tanaman para petani. Ketika dikejar, mereka lari dengan mencibir pemilik ladang. Setelah tiga hari, semua monyet-manusia itu mati. Jika manusia terus menerus tidak menghiraukan peringatan Allah dan rasul-Nya, apa susahnya bagi Allah memberi azab seperti yang dialami umat Nabi Musa itu sekarang atau esok hari?

Kaum muslimin yang saya muliakan.

Alhamdulillah, tidak ada satupun di antara yang hadir ini terkena sindiran HAM (Himar, Ajing dan Monyet) melalui firman-firman Allah. Tapi, jika ada yang tersindir, maka jadikan Jum’at ini hari pembebasan dari sifat-sifat hewan HAM, dan hari perubahan menuju kemuliaan. Allah Maha Baik, pasti menolong hamba-Nya yang ingin berubah menjadi lebih baik. Kita harus berubah setiap selesai beribadah. Jangan sampai kita aktif ke masjid, sedangkan iman kita tetap beku, tak berubah seperti mayit.

 

Khotbah Jumat, 08 Maret 2019 di Masjid Raya Ulul Albab UIN Sunan Ampel SUrabaya.

Hak Cipta © 2019 Pusat Ma'had Al-Jami'ah UIN Sunan Ampel Surabaya.