MUSLIM, Harus Menjadi Juru Damai

Penilaian: 1 / 5

Aktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

ghazali saidOleh: Dr. H. Imam Ghazali Said, MA (Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya dan Pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur Wonocolo Surabaya)

Marilah kita tingkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt dengan berusaha sekuat tenaga mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya dan menjahui sekuat tenaga apa yang dilarang-Nya.

Hamba Allah, yang kami hormati

Kita sebagai Muslim, yang akar katanya berasal dari kata Salima dengan arti selamat atau damai. Itu artinya, Muslim adalah individu yang selamat dan damai atau dalam aktifnya Muslim adalah juru selamat atau juru perdamaian, bukan juru konflik.

Dalam sejarah kenabian bisa dilihat, Nabi Ibrahim yang merupakan salah satu Nabi yang disebut sebagai Muslim (hanifan musliman) memiliki jiwa perdamaian sehingga menjadi simbol bertemunya para Nabi, terlebih nabi Muhammad Saw. Kalaupun di era Nabi Ibrahim terjadi konfik atau peperangan, kejadian ini hanya dalam rangka mencapai taktik perdamaian agar setiap orang tidak boleh bertindak sembarangan kepada yang lain. Nabi Ibrahim tidak berperang, kecuali dalam rangka mencapai perdamaian sehingga beliau tidak pernah menganiaya, tapi lebih banyak dianiaya.

Begitu juga Nabi Muhammad yang merupakan turunan Nabi Ibrahim. Ia lebih banyak menerima aniaya dari orang-orang kafir. Memerangi mereka dilakukan oleh Nabi Muhammad dalam rangka mempertahankan diri, sekaligus menciptakan budaya Arab dalam kedamaian sehingga jauh dari tindakan aniaya yang biasa dilakukan masyarakat Arab, khususnya di Makkah. Karenanya, mari kita belajar  berdamai dengan diri sendiri, sebelum bisa memberikan kedamaian pada yang lain sebagaiman diteladankan oleh para Nabi.

Dalam salah satu hadithnya, Nabi Muhammad mengatakan:

المسلمُ مَنْ سَلم المسلمُون من يدِه ولسانِه

Muslim –sejatinya—adalah orang yang mampu memberikan kedamaian pada yang lain, baik tangan atau lisannya

Hadithnya ini tidak saja berlaku secara individual, tapi juga berlaku kepada semua kelompok Muslim. Tidak pantas, untuk tidak menyatakan tidak layak, mereka menyandang sebagai salah satu kelompok Islam. Tapi prilakunya jauh dari nilai-nilai Islam sebagai agama yang menyerukan pesan damai kepada yang lain, termasuk kepada orang yang lain agama (rahmatan lil alamin).

Firman Allah dalam surat al-Hujurat; 13 disebutkan:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِير

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa. Sesunggguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Dalam ayat ini, dipahami bahwa khitab atau sasaran ayat berlaku kepada semua manusia, bukan hanya kepada umat Islam sebagaimana tersirat dalam kata al-Nas. Selanjutnya, kata lita’arafu, yang berarti saling mengenal. Dengan maksud bahwa Allah dengan sengaja menjadikan manusia ini berbeda-beda ---bukan dalam satu bentuk atau dalam satu kelompok-- dalam rangka agar antar mereka saling mengenal, bukan saling konflik.  

Bermula dari saling mengenal, akan lahir sikap saling mengerti dan memahami hingga menghormati. Bahkan lebih dari itu, akan muncul kesadaran bahwa kita tidak bisa berdiri sendiri atau merasa paling benar sendiri. Kesadaran ini penting, agar kita terus melakukan koreksi atas prilaku yang dilakukan sehari-hari dengan belajar untuk melihat kebenaran yang mungkin lahir dari orang lain yang berbeda, baik kelompok maupun beda agama.

Dari penjelasan singkat ini, marilah terus pupuk diri kita untuk terus berdamai dengan diri sendiri, sekaligus terus konsisten memberikan kedamaian kepada orang lain. Sudah saatnya, kita menjauh dari narasi dan prilaku yang menyebabkan konflik antar sesama mengingat konflik antar sesama tidak akan menguntungkan, kecuali larut dalam kebencian dan saling dendam sehingga dinikmati oleh musuh-musuh Islam.

Lebih dari itu, kondisi damai akan melahirkan kerja-kerja cerdas berbasis kebudayaan yang bisa dimanfaatkan dalam waktu yang sangat lama. Sebaliknya, konflik akan menjadi coretan sejarah buruk, yang tidak layak ditiru oleh generasi masa depan. Kondisi damai akan melahirkan peradaban agung, seperti masjid-masjid di beberapa belahan dunia yang berumur ratusan hingga ribuan tahun. Sebuah warisan kebudayaan yang lahir dalam kondisi damai, bukan dalam kondiri konflik.

Akhirnya, semoga bangsa Indonesia terus dalam damai. Salah satunya dengan hadirnya lembaga pendidikan yang menyerukan perdamaian. Dan semoga kampus ini hadir dalam kedamaian sebab dengan damai –jauh dari konflik— kampus ini akan terus berbenah diri dengan terus memunculkan inovasi-inovasi baru dalam kebudayaan luhur, yang kelak akan dilirik pihak lain. Bahkan akan terus dinikmati oleh setiap generasi masa depan. amin. 

 

Intisari Khotbah Jumat, 14 Desember 2018 di Masjid Raya Ulul Albab UIN Sunan Ampel Surabaya

Hak Cipta © 2019 Pusat Ma'had Al-Jami'ah UIN Sunan Ampel Surabaya.