Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

a3822 foto sanuriOleh: Dr. Sanuri, S.Ag., M.Fil.I (Dosen Fakultas Syariah dan Hukum)

Kita patut bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat dan hidayah-Nya sehingga kita dengan ringan kaki dapat melaksanakan perintahNya, yakni sholat Jum’at. Betapa banyak orang di saat yang sama tidak bisa melaksanakan perintah-Nya disebabkan tidak mendapat hidayahNya, pada mereka dalam keadaan sehat.

Kaitannya dengan hidayah ini, saatnya melalui khutbah ini mari kita renungkan ayat berikut ini:

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِۦ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِى مَن يَشَآءُ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

Artinya: Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

فَاِنَّ اللّٰهَ يُضِلُّ مَنۡ يَّشَآءُ وَيَهۡدِىۡ مَنۡ يَّشَآءُ 

Artinya: Maka sesunggunya menyesatkan orang yang dikehendaki, dan memberikan hidayah kepada yang dikehendaki.Top of Form

Bottom of Form

Dua ayat di atas menegaskan tentang masalah petunjuk atau hidayah Allah, sekaligus memastikan bahwa Allah menampakkan sifat Jabbar-Nya dalam memberikan petunjuk atau kesesatan. Artinya, manusia ditempatkan sebagai majbur atau yang dipaksa tunduk terhadap putusanNya.

Karenanya, agar tidak terjadi ekstrem pemahaman, kalangan Asy’ariyah memberikan pemahaman bahwa Allah memiliki hak prerogatif untuk menyesatkan manusia, sekaligus memberikan hidayah-Nya. Tapi, manusia diberi hak untuk berusaha dan keputusan akhir ada kepada-Nya. Manusia harus berdoa dengan serius, keputusan dikabulkan atau tidaknya adalah hal prerogatif Allah.

Pada kesempatan yang berbeda di Surat al-Qashash; 56 Allah mengingatkan:

إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ 

Artinya: Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.

Ayat ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Saw. saja tidak bisa memberikan petunjuk kepada Abu Thalib, apalagi umatnya. Tugas Nabi Muhammad—termasuk kita sebagai umatnya-- hanya mengajak kebaikan atau tabligh, selebihnya hidayah adalah otoritas Allah.

Dengan begitu, maka tidak ada jaminan orang memperoleh hidayah selamanya, sekalipun pada saat yang sama ia tekun beribadah kepada-Nya. Kita banyak menyaksikan, orang yang awalnya tekun beribadah kepada Allah. Eee pada akhir kehidupannya dalam kesesatan. Atau sebaliknya, tidak sedikit orang yang awalnya berlumuran dosa karena kemaksiatan yang dilakukan, eee ternyata pada akhirnya ia mendapat hidayah-Nya sehingga tergerak dalam mengikuti perintah-Nya dan istiqamah menjahui larangan-Nya. Lebih dari itu, kita semua yang setiap hari belajar agama, juga tidak ada jaminan selamanya dapat hidayah-Nya sebab sekali lagi tetapnya hidayah adalah otoritas tunggal Allah.

Pada akhirnya, kita hanya dianjurkan oleh Allah agar terus berusaha semaksimal mungkin dalam kebaikan, sekaligus berdoa tiada henti agar hidayah-Nya terus tumbuh dalam diri kita sehingga kita tergerak menjalankan perintah dan menjahui larangan-Nya. Surat al-Fatihah yang kita baca setiap mengerjakan sholat juga layak kita renungkan betapa do’a itu penting agar kita terus mendapat hidayahNya, اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ. Semoga kita terus mendapat hidayah-Nya. Amin ya rabbal alamin.

Intisari Khotbah Jumat, 28 Desember 2018 di Masjid Raya Ulul Albab UIN Sunan Ampel Surabaya

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

ghazali saidOleh: Dr. H. Imam Ghazali Said, MA (Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya dan Pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur Wonocolo Surabaya)

Marilah kita tingkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt dengan berusaha sekuat tenaga mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya dan menjahui sekuat tenaga apa yang dilarang-Nya.

Hamba Allah, yang kami hormati

Kita sebagai Muslim, yang akar katanya berasal dari kata Salima dengan arti selamat atau damai. Itu artinya, Muslim adalah individu yang selamat dan damai atau dalam aktifnya Muslim adalah juru selamat atau juru perdamaian, bukan juru konflik.

Dalam sejarah kenabian bisa dilihat, Nabi Ibrahim yang merupakan salah satu Nabi yang disebut sebagai Muslim (hanifan musliman) memiliki jiwa perdamaian sehingga menjadi simbol bertemunya para Nabi, terlebih nabi Muhammad Saw. Kalaupun di era Nabi Ibrahim terjadi konfik atau peperangan, kejadian ini hanya dalam rangka mencapai taktik perdamaian agar setiap orang tidak boleh bertindak sembarangan kepada yang lain. Nabi Ibrahim tidak berperang, kecuali dalam rangka mencapai perdamaian sehingga beliau tidak pernah menganiaya, tapi lebih banyak dianiaya.

Begitu juga Nabi Muhammad yang merupakan turunan Nabi Ibrahim. Ia lebih banyak menerima aniaya dari orang-orang kafir. Memerangi mereka dilakukan oleh Nabi Muhammad dalam rangka mempertahankan diri, sekaligus menciptakan budaya Arab dalam kedamaian sehingga jauh dari tindakan aniaya yang biasa dilakukan masyarakat Arab, khususnya di Makkah. Karenanya, mari kita belajar  berdamai dengan diri sendiri, sebelum bisa memberikan kedamaian pada yang lain sebagaiman diteladankan oleh para Nabi.

Dalam salah satu hadithnya, Nabi Muhammad mengatakan:

المسلمُ مَنْ سَلم المسلمُون من يدِه ولسانِه

Muslim –sejatinya—adalah orang yang mampu memberikan kedamaian pada yang lain, baik tangan atau lisannya

Hadithnya ini tidak saja berlaku secara individual, tapi juga berlaku kepada semua kelompok Muslim. Tidak pantas, untuk tidak menyatakan tidak layak, mereka menyandang sebagai salah satu kelompok Islam. Tapi prilakunya jauh dari nilai-nilai Islam sebagai agama yang menyerukan pesan damai kepada yang lain, termasuk kepada orang yang lain agama (rahmatan lil alamin).

Firman Allah dalam surat al-Hujurat; 13 disebutkan:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِير

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa. Sesunggguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Dalam ayat ini, dipahami bahwa khitab atau sasaran ayat berlaku kepada semua manusia, bukan hanya kepada umat Islam sebagaimana tersirat dalam kata al-Nas. Selanjutnya, kata lita’arafu, yang berarti saling mengenal. Dengan maksud bahwa Allah dengan sengaja menjadikan manusia ini berbeda-beda ---bukan dalam satu bentuk atau dalam satu kelompok-- dalam rangka agar antar mereka saling mengenal, bukan saling konflik.  

Bermula dari saling mengenal, akan lahir sikap saling mengerti dan memahami hingga menghormati. Bahkan lebih dari itu, akan muncul kesadaran bahwa kita tidak bisa berdiri sendiri atau merasa paling benar sendiri. Kesadaran ini penting, agar kita terus melakukan koreksi atas prilaku yang dilakukan sehari-hari dengan belajar untuk melihat kebenaran yang mungkin lahir dari orang lain yang berbeda, baik kelompok maupun beda agama.

Dari penjelasan singkat ini, marilah terus pupuk diri kita untuk terus berdamai dengan diri sendiri, sekaligus terus konsisten memberikan kedamaian kepada orang lain. Sudah saatnya, kita menjauh dari narasi dan prilaku yang menyebabkan konflik antar sesama mengingat konflik antar sesama tidak akan menguntungkan, kecuali larut dalam kebencian dan saling dendam sehingga dinikmati oleh musuh-musuh Islam.

Lebih dari itu, kondisi damai akan melahirkan kerja-kerja cerdas berbasis kebudayaan yang bisa dimanfaatkan dalam waktu yang sangat lama. Sebaliknya, konflik akan menjadi coretan sejarah buruk, yang tidak layak ditiru oleh generasi masa depan. Kondisi damai akan melahirkan peradaban agung, seperti masjid-masjid di beberapa belahan dunia yang berumur ratusan hingga ribuan tahun. Sebuah warisan kebudayaan yang lahir dalam kondisi damai, bukan dalam kondiri konflik.

Akhirnya, semoga bangsa Indonesia terus dalam damai. Salah satunya dengan hadirnya lembaga pendidikan yang menyerukan perdamaian. Dan semoga kampus ini hadir dalam kedamaian sebab dengan damai –jauh dari konflik— kampus ini akan terus berbenah diri dengan terus memunculkan inovasi-inovasi baru dalam kebudayaan luhur, yang kelak akan dilirik pihak lain. Bahkan akan terus dinikmati oleh setiap generasi masa depan. amin. 

 

Intisari Khotbah Jumat, 14 Desember 2018 di Masjid Raya Ulul Albab UIN Sunan Ampel Surabaya

Penilaian: 1 / 5

Aktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

yai mujibOleh: Drs. K.H. Abd. Mujib Adnan, M.Ag. (Kepala Pusat Ma'had Al-Jami'ah UINSA)

Mayoritas umat Islam di Indonesia pada hari ini, Rabu 10 Dzulhijjah 1439 H atau ‎bertepatan dengan tanggal 22 Agustus 2018, serentak melangkahkan kakinya untuk ‎melaksanakan sholat hari raya idul Adha, baik masjid atau lapangan. Idul Adha adalah ritual ‎keagamaan tahunan bagi umat Islam yang memiliki makna dalam konteks beragama ‎sebagai makhluk yang meyakini adanya Tuhan, sekaligus dalam konteks bermasyarakat ‎sebagai makhluk bersosial.‎
Membicarakan Idul Adha, maka yang terlintas dalam benak kita adalah kisah historis ‎pengurbanan dari Nabi Ibrahim As. dan putranya, Nabi Ismail As, yang diabadikan dalam ‎al-Qur’an. Maka, pengabadian kisah ini menunjukkan bahwa praktik penghambaan yang ‎dilakukan oleh Ibrahim dan Islam bukan hanya layak dibaca dan direnungkan. Tapi, layak ‎pula diteladani dan dipraktikkan dalam konteks kehidupan kita, sebagai individu ‎masyarakat dan berbanga.‎
Oleh karenanya, pada kesempatan ini ada dua hal yang menurut saya penting sehingga ‎Ibrahim dan Ismail layak diteladani berdasarkan pada surat ash-Shaffat: 102-105. Pertama, ‎ketulusan dalam menerima perintah Allah Swt. Ketulusan ini bermula dari mimpi Nabi ‎Ibrahim yang mendapat perintah dari Allah untuk menyembelih anaknya, Ismail. Perintah ‎yang sangat berat untuk direalisasikan, bahkan menjadi bentuk cobaan untuk menjadikan ‎bukti kesalehan sejati. Setelah meyakini kebenaran mimpi itu, akhirnya Ibrahim ‎melaksanakan perintah itu, sekalipun akhirnya Allah membalas dengan tebusan dengan ‎sembelihan hewan sebagai ganti dari Ismail.‎
Maknanya, ketulusan menjadi kunci keberhasilan kita dalam kehidupan. Mengapa, sebab ‎ketulusan memaksa kita untuk berbuat baik, tanpa memandang untung-rugi. Yang dipikir ‎adalah berbuat sebaik mungkin, tapi yakinlah Allah melimpahkan rahmatNya bagi mereka ‎yang tulus. Ketulusan dan kepatuhan Ibrahim dan Ismail menjadi jalan Allah mengganti ‎Ismail dengan hewan sembelihan, yang menurut riwayat dalam tafsir al-Qurtubi-- adalah ‎kambing Habil yang pernah dikurbankan sebagai bentuk pengabdian tulus kepada Allah. ‎
Kedua, membuka ruang dialog dengan pihak yang lain. Sekalipun Ibrahim meyakini ‎kebenaran mimpinya –karena memang mimpi para Nabi adalah wahyu--, tapi Ibrahim ‎tetap melakukan diskusi-dialogis dengan Ismail. Sebuah model diskusi yang terbuka ‎sehingga tidak ada di antara dua pihak yang saling mendominasi. Semua akhirnya bersama-‎sama tulus dan memahami betul perintah Allah sebagai kebenaran yang tidak perlu ‎diperdebatkan. ‎
Dialog model Ibrahim dan ismail dalam konteks alam demokrasi menjadi sangat penting. ‎Dengan dialog perbedaan bisa cair dan dengan dialog punya penyelesaian problem ‎kebangsaan akan mudah diselesaikan dengan baik. Mengapa kita masih sering terjadi saling ‎sikut dan saling berantem sebab diantara kita masih kurang memaksimalkan peran dialogis ‎sebagai jalan untuk melahirkan kemufakatan. Yang terjadi ego mendomininasi dan ‎kerugian yang lain tidak menjadi pertimbangan.‎
Akhirnya, semoga dihari Idul Kurban ini kita terus terpanggil untuk menjadikan Ibrahim ‎dan Ismail sebagai titik pijak keteladanan kita sehingga kita mampu mensinergikan nilai-‎nilai ketuhanan, dan nilai-nilai kemanusiaan secara bersamaan. Ini bisa terjadi jika kurban ‎tidak hanya dimaknai fisik tapi juga substansi, yaitu ketulusan sebagai bentuk kepatuhan ‎padaNya yang senantiasa bersemayam dalam hati setiap individu. Amin. Nabi Muhammad ‎mengingatkan dalam sebuah hadithnya :‎
‏ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ (رواه مسلم)‏
Sesungguhnya Allah tidak memandang bentuk badanmu dan tidak pula bentuk ‎rupamu. Tapi, Allah memandang hatimu (Riwayat Muslim).‎

Intisari Khotbah Iduladha 1439 H/2018 M di Masjid Raya Ulul Albab UIN Sunan Ampel Surabaya, 22 Agustus 2018.

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

sudjakOleh: Dr. H. M. Sudjak, M.Ag
(Mantan Kanwil Kemenag Jawa Timur)

Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita terus meningkatkan taqwa kepada Allah dalam setiap saat sebab dengan taqwa kita dipastikan memiliki posisi terhormat di sisiNya. Semoga kita, saudara, sahabat, teman, tetangga dan semua yang berhubungan dengan kita senantiasa diberi taufiqNya hingga dapat tergolong sebagai orang-orang yang bertaqwa (al-Muttaqin).

Kita patut bersyukur kepadaNya sebab telah memasuki bulan syawal, setelah kita selama satu bulan di bulan Ramadan menekan hawa nafsu agar tidak semakin bebas melalui kegiatan puasa, beribadah, shadaqah, infaq dan aktivitas lainnya yang dipandang memiliki nilai ibadah di sisiNya. Karenanya, semoga ibadah yang kita lakukan di sepanjang bulan Ramadhan benar-benar memiliki pengaruh bagi mental dan spiritual kita menuju derajat sebagai:

Pertama, orang yang memperoleh kemenangan (al-faizin). Menang disebabkan karena kita telah berhasil mempertahankan diri untuk menahan hawa nafsu dengan mengikuti kewajiban serta kesunnahan disepanjang Ramadhan. Pengekangan hawa nafsu adalah jalan agar kita tidak semakin liar dalam hidup sehingga tidak menyerupai hewan atau mendekati karakter setan. Maka, kemenangan sejati adalah kemampuan menjaga kualitas diri agar semakin bernilai hidupnya sebab sejatinya hidup bukan sekedar makan, minum dan tidur. Tapi ada tuntutan ibadah setiap saat sebagai bentuk penghambaan (ibadul Allah).

Kedua, orang-orang yang bertaqwa (al-Muttaqin). Tujuan utama puasa adalah dalam rangka agar kita mencapai derajat taqwa dengan makna yang sebenarnya. Momentum bulan syawal merupakan momentum peningkatan. Tapi, problem yang paling dirasakan adalah apakah kita mampu mempertahankan nilai-nilai luhur kemenangan dan ketaqwaan ini, yang diperolehnya melalui ibadah disepanjang bulan Ramadhan; mulai puasa, infaq, membaca al-Quran, shadaqah dan lain-lain, termasuk tidak menyakiti sesama dengan jalan apapun.

Ketiga, orang yang kembali kefitrah sebagai manusia, yang dikenal dengan sebutan ‘idul fitri. Karenanya, mereka yang kembali ke fitrah setidaknya dalam dilihat dari maknanya yang beragama. Kefitraan bisa diartikan dengan suci, setelah aktivitas kebaikan banyak dilakukan oleh kita disepanjang bulan Ramadhan. Ketika kita memasuki bulan Syawal dan berhari raya, maka kita hidup telah suci dari kotor sehingga harus dirawat agar tida kotor kembali agar kita terus fitrah.

Kefitraan bisa dimaknai sebagai fitrah menuju jati diri sebagai manusia, baik dari sisi biologis, spiritual, dan sosiologis. Jati diri sebagai manusia tidak bisa hidup sendiri, tapi berhubungan dengan yang lain. Jangan pernah sombong, kita ada karena ada yang lain sehingga perlu tanamkan sikap saling hormat dan menghargai. Secara spiritual, mengajarkan bahwa jati diri manusia tidaklah hidup dari sisi materi, tapi ada dimensi ruh dan spiritual sehingga perlu diperhatikan agar kualitas kemanusiaannya makin meningkat.

Allah SWT mengingatkan agar kiranya kita saling mengenal dengan sesama, tanpa melihat suku dan bangsa. Mengenal berbeda dengan mengetahui. Mengenal adalah pengetahuan yang didasari kesadaran sebagai samasama manusia, yang hidup saling memiliki ketergantungan. Maka layak direnungkan dawuhNya al-Hujurat; 13 sebagaimana berikut:

يا أيها الناس إنا خلقناكم من ذكر وأنثى وجعلناكم شعوبا وقبائل لتعارفوا إن أكرمكم عند الله أتقاكم إن الله عليم خبير

Artinya “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Oleh karenanya, jadikan ibadah puasa yang kita lakukan, zakat, infaq dan lain-lain sebagai titik pijak kita untuk terus berada dalam jalan kebaikan sesuai dengan hasil proses ibadah sepanjang Ramadhan. Jika tidak maka sejatinya kita akan semakin jauh dari kebaikan sepanjang hidup, bahkan menjadi sebab kita terpelosok semakin dalam sebagai manusia yang berjati diri. Akibatnya, lagi-lagi egoisme dan individualisme akan terus mewarnai kehidupan kita. Semoga kita selalu mendapat taufiqNya. Amin.

Intisari Khotbah Jumat, 22 Juni 2018 di Masjid Raya Ulul Albab UIN Sunan Ampel Surabaya

Halaman 1 dari 8

Hak Cipta © 2019 Pusat Ma'had Al-Jami'ah UIN Sunan Ampel Surabaya.