Penilaian: 1 / 5

Aktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

kajian 21 03(Catatan Rutinan Ngaji Rebu-an)

Ratusan Mahasanti Ma’had al-Jami’ah memadati Masjid Raya Ulul Albab UIN Sunan Ampel Surabaya, guna mengikuti kajian rutin kitab kuning yang diselenggarakan oleh Pusat Ma’had al-Jami’ah setiap hari Rabu malam (21/03). Sebagaimana lazim, kitab yang dikaji adalah kitab Bidayah al-Hidayah karangan Imam Abu Hamid al-Ghazali; sebuah yang mengulas tentang fikih-sufistik, termasuk etika dalam kehidupan baik secara vertical (Tuhan), maupun secara horizontal (manusia.

Kajian kali ini mengulas tentang etika Pertemanan dalam kehidupan sosial. Adapun catatan yang diulas oleh Drs. KH. Misbahul Munir,M.Ag selaku kepala Pusat Ma’had Al-Jami’ah sebagaimana berikut:

 

Etika Pertemanan Dalam Ruang Sosial

Untuk menjaga agar ruang sosial tetap harmoni, dan kita jauh dari pertemanan yang lebih banyak memberikan kerusakan, maka perhatikan point-point di bawah ini

 

Penilaian: 2 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

ngaji1234( Catatan Ringan Ngaji Reboan)

Oleh: Dr. H. Abdul Basith Junaidy, M.Ag

Hari Rabu malam tgl 14 Maret, saya dijadwal baca kitab "wajib" pesantren, "Bidayah Al Hidayah" karya Hujjatullah imam Al Ghazali di masjid Raya Ulul Albab UIN Sunan Ampel Surabaya dalam kajian rutian "Reboan" bersama Mahasantri Pesantren Mahasiswa dan Umum.
Kebetulan bab yang saya baca adalaha Bab Tatakrama Murid terhadap Guru. Al-Ghazali menulis poin poin yang harus dilakukan murid terhadap gurunya agar ilmunya bermanfaat tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Secara umum, kunci agar ilmu murid benar benar diberi ilmu manfaat oleh Gusti Allah SWT adalah : Murid selalu berupaya mendapatkan ridho gurunya dengan cara melakukan hal hal yang membuat gurunya senang kepadanya dan menjauhkan diri dari hal hal yang menyakiti gurunya baik secara fisik maupun non fisik, melalui Tatakrama dan etiket tertentu sebagai berikut :
1. Jika bertemu dg Guru,murid menyapanya dg penuh keramahan dan kesopanan diikuti dg ucapan salam kepada sang Guru.
2. Ketika berada di dekat di hadapan sang Guru, murid meminimalkan pembicaraan.
3. Murid Tidak bicara sebelum ditanya Sang Guru.
4. Jika hendak bertanya, Murid terlebih dahulu memohon izin pada Sang Guru.
5. Murid tidak menentang atau mementahkan ngendikan sang Guru dengan menyatakan bahwa ada guru lain yang beda pendapat dengan pendapat Sang Guru.
6. Murid tidak pernah merasa lebih pintar daripada Sang Guru dengan ucapan dan tindakannya.
7. Murid tidak berbicara dengan teman sesama murid pada saat proses pembelajaran oleh Sang Guru.
8. Murid tidak menoleh ke kanan dan ke kiri ketika proses pembelajaran, melainkan. Ia diam, tenang dan tawadluk di hadapan guru seolah olah ia sedang melakukan ibadah sholat.
9. Tidak banyak bertanya pada Sang Guru ketika melihat sang Guru tampak kurang berkenan
10. Ketika sang Guru berdiri , maka Murid juga ikut berdiri , tanpa perlu menanyakan pada Sang Guru, kemana beliau mau pergi.
11. Ketika berpergian bersama sang Guru, Murid tidak perlu banyak bertanya sampai Sang guru sampai di tempat tujuan, kecuali jika beliau yang mengajak bicara.
12. Murid tidak suuzzon atau buruk sangka pada sang Guru, ketika menyaksikan sang Guru melakukan tindakan yang menurut Murid kurang pas. Sebab sang guru lebih tahu rahasia di balik tindakan itu. Sebaliknya murid hendaknya bertanya pada sang guru biar tidak salah faham.
Poin poin di atas merupakan standar perilaku santri kepada guru, kyai, ustad di banyak pesantren di Indonesia. Insya Allah SWT di banyak pesantren hal itu masih sangat tampak terlihat. Salah satu alasannya, karena Kitab "Bidayah" merupakan kitab "dasar sekaligus wajib" bagi para santri pemula yang menggabungkan antara "ketaatan fikih dan kelenturan tasawuf".

Di pondok Langitan, almaghfurlah Romo Yai Ahmad Marzuki selalu wiridan mengaji kitab "Bidayah Al hidayah" tiap bulan Romadhon bakda sholat Ashar di masjid utama PP Langitan. Semoga para guru guru kita diampuni dosanya oleh Gusti Allah dan semoga semua Amaliah beliau diterima. Dan kita sebagai murid, semoga diberi ilmu yang bermanfaat dan membawa maslahat... Aamiinn.

Penilaian: 1 / 5

Aktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Berbondong-bondong mahasantri Pusat Ma’had al-Jamiah memadati masjid Ulul Albab UIN Sunan Ampel Surabaya, untuk mengikuti kajian rutin kitab kuning yang diselenggarakan setiap hari Rabu malam (13/04). Kitab yang dikaji adalah kitab nashaaih al-ibaad karangan Syekh Syihabuddin bin Hajar al-Asqalani yang disyarahi oleh Syekh Nawawi bin Umar al-Jawi.
Kitab yang berisi beberapa nasihat dalam bentuk karangan ini, telah sampai pada bab al-khumasi. Diisi oleh K. Lathaif Ghazali, para mahasantri baik putra maupun putri menyimak saksama apa yang disampaikan tentang kandungan dari kata demi kata yang ada di dalam kitab tersebut.

Dalam penjelasannya, K. Lathaif Ghazali menjelaskan maqalah al-ula tentang lima hal yang tidak boleh dilakukan karena akan merusak lima hal yang lain. Yang pertama, larangan meremehkan ulama, karena akan merusak agama pemiliknya. Kedua, larangan meremehkan penguasa, karena akan merusak dunia. Penguasa atau pemerintah adalah orang yang memegang kekuasan dan kendali atas pemerintahan. Jika ada yang menentang ataupun meremehkannya, maka dunia akan rusak. Ketiga, larangan meremehkan tetangga, karena akan merusak kebaikan yang ada pada hubungan bertetangga. Keempat, larangan meremehkan kerabat, karena akan merusak cinta di antara mereka. Kelima, larangan merendahkan pasangan, suami atau istri, karena akan merusak indahnya kehidupan berkeluarga.

Halaman 1 dari 2

Hak Cipta © 2019 Pusat Ma'had Al-Jami'ah UIN Sunan Ampel Surabaya.